Padang – Masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) resah dengan konten kreator yang menggunakan bahasa Minang untuk memaki-maki (bacaruik) di TikTok dan Facebook. Konten ini dinilai berdampak buruk bagi generasi muda.
Keresahan ini muncul karena konten media sosial dikonsumsi semua usia, termasuk anak-anak. Orang tua khawatir anak-anak meniru ucapan kotor dari konten tersebut.
Sejumlah konten kreator muda Minang, seperti Uda Rio dan Minanglipp, ikut menyuarakan kecemasan. Mereka khawatir konten negatif ini akan semakin merajalela jika dibiarkan.
Uda Rio mengajak untuk menghentikan normalisasi konten caruik melalui video di TikTok dan Instagram, Rabu (10/9/2025). Ia menyinggung tentang “kato nan ampek” dalam peribahasa Minang.
“Selama ini saya cuma diam melihat konten-konten caruik di live TikTok, cuma makin lama makin banyak, makin dianggap biasa dan meresahkan. Ini masalah yang serius,” ujar Uda Rio dalam videonya.
Video penolakan konten caruik ini mendapat dukungan luas dari warganet. Mereka mendukung para konten kreator untuk menolak pembiaran konten negatif di media sosial.
Hingga kini, belum ada tanggapan atau aksi nyata dari lembaga dan tokoh masyarakat di Sumbar seperti LKAAM, MUI, akademisi, dan kepala daerah terkait isu ini.











