New York – Wali Kota terpilih New York City, Zohran Mamdani, akan mengukir sejarah pada 1 Januari 2026 mendatang dengan mengucapkan sumpah jabatannya menggunakan Al-Quran. Ini adalah kali pertama seorang pemimpin kota metropolis tersebut dilantik dengan kitab suci umat Islam, menandai serangkaian peristiwa bersejarah bagi kota itu.

Tim kampanye politikus Partai Demokrat berusia 34 tahun itu mengkonfirmasi pada Rabu, 31 Desember 2025, mengenai langkah bersejarah tersebut. Upacara sumpah jabatan akan dibagi menjadi dua bagian.

Jaksa Agung New York, Letitia James, akan memimpin upacara tengah malam secara tertutup di Stasiun Balai Kota Lama, sebuah stasiun kereta bawah tanah bersejarah yang sudah tidak beroperasi. Selanjutnya, pelantikan untuk publik akan diselenggarakan di tangga Balai Kota pada Kamis siang, dipimpin oleh Senator Bernie Sanders.

Mamdani akan menggunakan dua Al-Quran milik keluarganya, serta satu Al-Quran milik penulis dan aktivis Puerto Rico, Arturo Schomburg. Schomburg dikenal karena membangun fondasi Pusat Penelitian Budaya Kulit Hitam Schomburg di Harlem.

Sebagai seorang sejarawan kulit hitam Puerto Rico, koleksi Schomburg mendokumentasikan kontribusi global orang-orang keturunan Afrika. Meskipun tidak jelas bagaimana Schomburg memperoleh Al-Quran tersebut, para cendekiawan meyakini hal itu mencerminkan minatnya pada hubungan historis antara Islam dan budaya kulit hitam di Amerika Serikat serta di seluruh Afrika.

Al-Quran yang akan digunakan Mamdani dilaporkan memiliki desain sederhana, berbeda dengan manuskrip keagamaan berornamen yang diasosiasikan dengan keluarga kerajaan atau kaum elit. Sampulnya berwarna merah tua dengan medali bunga sederhana dan tulisan tinta hitam serta merah yang mudah dibaca.

Desain ini menunjukkan bahwa Al-Quran tersebut dibuat untuk penggunaan sehari-hari, bukan untuk tampilan seremonial.

Terpilihnya Zohran Mamdani memicu gelombang retorika Islamofobia yang diperkuat oleh perhatian nasional terhadap rasnya. Dalam pidato emosional beberapa hari sebelum pemilihan, Mamdani menegaskan bahwa permusuhan tersebut justru memperkuat tekadnya untuk menunjukkan keyakinannya secara terbuka.

“Saya tidak akan mengubah siapa saya, bagaimana saya makan, atau keyakinan yang dengan bangga saya sebut sebagai milik saya,” katanya. “Saya tidak akan lagi mencari diri saya dalam bayang-bayang. Saya akan menemukan diri saya dalam terang.”

Keputusan untuk menggunakan Al-Quran telah menuai kritik baru dari beberapa kalangan konservatif. Senator AS Tommy Tuberville dari Alabama, misalnya, menulis di media sosial, “Musuh ada di dalam gerbang,” menanggapi artikel berita tentang pelantikan Mamdani.

Reaksi negatif semacam ini bukan hal baru. Pada tahun 2006, Keith Ellison, Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres, juga menghadapi kecaman dari kaum konservatif setelah memilih menggunakan Al-Quran untuk sumpah jabatannya.

Meskipun penggunaan Alkitab untuk mengucapkan sumpah adalah tradisi umum yang membuatnya tampak seperti sebuah aturan, tidak ada hukum yang mewajibkan pejabat untuk menggunakan teks keagamaan tertentu saat mengucapkan sumpah. Bahkan, mantan presiden AS Theodore Roosevelt tidak bersumpah di atas Alkitab saat mengucapkan sumpah jabatan, dan Presiden Donald Trump sendiri tidak meletakkan tangannya di atas Alkitab selama pelantikannya.

Setelah pelantikan Zohran Mamdani, Al-Quran bersejarah tersebut akan dipamerkan kepada publik di Perpustakaan Umum New York.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.