Rempang – Warga Pulau Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau, terus menyuarakan penolakan terhadap proyek Rempang Eco City. Aksi perlawanan terbaru dilakukan bertepatan dengan perayaan Hari Tani Nasional, di mana warga menggelar demonstrasi menolak penggusuran dari tanah leluhur mereka.

Tidak sampai dua minggu setelah aksi ‘Pasar Rakyat Melawan’, warga Rempang kembali turun ke jalan pada Rabu, 25 September 2025. Kali ini, mereka melakukan pawai hasil bumi, mengarak berbagai jenis tanaman pertanian yang tumbuh di Pulau Rempang mengelilingi kampung.

Setelah berkeliling kampung, hasil bumi yang terdiri dari aneka sayur, buah-buahan, dan hasil panen lainnya dikumpulkan di Lapangan Sembulang, Pulau Rempang. Seluruhnya disusun menjadi gunungan besar, dilengkapi dengan beberapa nasi tumpeng yang juga disiapkan warga.

“Kita di Rempang ini persis seperti gundukan hasil panen yang ada di depan kita ini: bermacam-macam suku di Pulau Rempang tetapi tetap satu,” ujar Aris, salah seorang warga, dalam orasinya. Ia menegaskan bahwa persatuan warga adalah kekuatan utama untuk memperjuangkan tanah leluhur mereka.

Ketua Amar GB Ishaka juga menyampaikan orasi, menegaskan bahwa ramainya partisipasi warga dalam perayaan Hari Tani ini adalah bukti nyata mayoritas penduduk Rempang masih bertahan di kampung dan menolak direlokasi. Senada, Sophia, warga perempuan dari Sungai Raya, berseru, “Tanah rakyat bukan untuk korporasi. Ruang hidup untuk kehidupan, bukan untuk perampasan.” Ia juga menyerukan penolakan terhadap “tipu-tipu transmigrasi” dan pembangunan Rempang Eco City.

Usai orasi dan pembacaan doa, warga kemudian membagikan hasil bumi tersebut kepada masyarakat. Sebelum membubarkan diri, warga juga membacakan surat terbuka yang ditujukan kepada hakim Mahkamah Konstitusi. Surat itu berisi keterangan yang diduga palsu, disampaikan oleh seorang saksi dalam sidang MK pada 22 September lalu. Saksi yang disebut sebagai warga penerima relokasi itu mengklaim hanya tiga warga Sembulang Tanjung yang menolak relokasi, padahal menurut warga yang menentang proyek ini, mayoritas masih bertekad bertahan di kampung mereka.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.