Pesisir Selatan – Ratusan warga Bayang dan Bayang Utara, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, menolak keras pembalakan liar di hulu Sungai Batang Bayang. Mereka khawatir kerusakan hutan mengancam sumber air utama.

Penolakan ini disuarakan dalam forum Rapat Anak Nagari di Teratak Teleng, Minggu (10/8/2025).

Tokoh masyarakat, H. Zaitul Ikhlas, memimpin rapat yang menghasilkan kesepakatan menolak seluruh aktivitas pembalakan di kawasan hulu sungai. Lokasi pembalakan berada di wilayah Sariak Bayang, Alahan Panjang, Kabupaten Solok.

“Kami mendesak agar pembalakan dihentikan total dan hutan dikembalikan ke fungsi aslinya,” tegas Zaitul Ikhlas.

Warga membentuk Tim Perjuangan Anak Nagari untuk membawa aspirasi ini ke tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat. H. Ikhlas Rasuki didapuk sebagai ketua tim, Yose Leonando sebagai sekretaris, dan Neng Efendi Datuak Rajo Nan Gadang sebagai bendahara.

Kerusakan hulu sungai dinilai bukan hanya masalah lokal, tetapi ancaman serius bagi seluruh wilayah Pesisir Selatan.

“Kami tidak ingin banjir bandang menjadi harga atas kelalaian menjaga hutan,” ujar Yose Leonando, sekretaris tim.

Gerakan #SaveBayang menggema di media sosial, menjadi simbol perlawanan terhadap eksploitasi hutan. Desakan publik mengarah pada pemerintah dan aparat penegak hukum untuk bertindak tegas.

Anggota DPRD Pesisir Selatan, Novermal, menyatakan siap mengawal tuntutan masyarakat Bayang hingga ke tingkat pusat.

Sebelumnya, Balai Penegakan Hukum (Gakkum) KLHK Wilayah Sumatera telah menyegel lokasi pembalakan liar di Sariak Bayang, Nagari Simpang Tanjung Nan Ampek, Kecamatan Danau Kembar, Kabupaten Solok, Kamis (7/8/2025).

Penyegelan dipimpin Kepala Balai Gakkum, Hari Novianto, bersama Novermal, Pemprov Sumbar, Pemkab Solok, dan Polres Solok. Lokasi tersebut merupakan daerah tangkapan air strategis yang mengalir ke Bayang.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.