New York – Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada Jumat, setelah sempat bergejolak di awal pekan. Kenaikan signifikan pada saham-saham teknologi berhasil menutupi tekanan yang dialami oleh saham konsumen, termasuk Nike, yang mengalami penurunan tajam.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 183,04 poin atau 0,38% menjadi 48.134,89. Indeks S&P 500 menguat 0,88% ke level 6.834,50, sementara Nasdaq Composite melonjak 1,31% mencapai 23.307,62.

Penguatan ini dipicu oleh proyeksi kinerja yang kuat dari produsen chip Micron Technology, yang kembali membangkitkan optimisme terhadap saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI). Sebelumnya, saham AI tertekan oleh kekhawatiran valuasi tinggi dan pendanaan. Saham Micron ditutup melonjak 7% dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Saham Nvidia naik 3,9% setelah pemerintah AS meluncurkan peninjauan kebijakan yang berpotensi membuka jalan bagi pengiriman chip AI terkuat kedua Nvidia ke China. Sementara itu, Oracle melonjak 6,6% setelah ByteDance, pemilik TikTok, menandatangani perjanjian mengikat untuk menyerahkan kendali operasi TikTok di AS kepada konsorsium investor, termasuk Oracle.

“Secara umum saham teknologi, terutama perusahaan yang terkait AI, sebelumnya berada di bawah tekanan cukup besar. Setelah Micron melaporkan kinerjanya dan pasar bereaksi positif, muncul keyakinan bahwa investor bisa kembali masuk ke saham-saham ini,” kata Thomas Martin, manajer portofolio senior di Globalt Investments.

Namun, tidak semua sektor menguat. Tujuh dari 11 sektor di S&P 500 ditutup positif pada Jumat. Sektor utilitas dan barang kebutuhan pokok konsumen masing-masing turun 1,34% dan 0,49%.

Di sektor konsumen, saham Nike anjlok 10,5% setelah perusahaan pakaian olahraga itu melaporkan penurunan margin kotor untuk kuartal kedua berturut-turut. Ini dipicu oleh lemahnya penjualan di China dan penyesuaian portofolio produk. Saham Lamb Weston juga merosot hampir 26% setelah pemasok kentang goreng beku itu mengisyaratkan permintaan yang lemah hingga akhir tahun fiskal. Conagra turun 2,5% usai melaporkan kinerja laba yang mengecewakan.

Secara mingguan, S&P 500 naik tipis 0,11% dan Nasdaq bertambah 0,48%. Sebaliknya, Dow Jones turun 0,67% sepanjang pekan.

Investor mendapat sedikit ketenangan dari data inflasi AS yang menunjukkan harga konsumen November naik lebih rendah dari perkiraan. Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa data tersebut bisa terdistorsi akibat penutupan pemerintahan AS selama 43 hari yang menghambat pengumpulan data Oktober.

Pelaku pasar masih memperkirakan setidaknya dua kali penurunan suku bunga masing-masing 25 basis poin oleh Federal Reserve tahun depan, menurut data LSEG, dengan peluang sekitar 20% penurunan pertama terjadi pada Januari.

Analis juga memperingatkan potensi volatilitas tinggi karena fenomena “triple witching”, yakni berakhirnya kontrak opsi saham, futures indeks saham, dan opsi indeks saham secara bersamaan. “Kenaikan teknis dari kondisi jenuh jual serta kedaluwarsa opsi membantu membersihkan sejumlah posisi,” kata Brent Kochuba, pendiri layanan analitik SpotGamma. Namun ia menambahkan, setelah libur Natal, pasar bisa menjadi lebih rentan terhadap fluktuasi harga.

Secara historis, Desember dikenal sebagai periode yang kuat bagi pasar saham. Berdasarkan Stock Trader’s Almanac, sejak 1950 indeks S&P 500 rata-rata naik 1,3% selama lima hari perdagangan terakhir tahun berjalan dan dua hari pertama Januari, yang dikenal sebagai fenomena “Santa Claus rally”.

Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham yang menguat mengungguli yang melemah dengan rasio 1,44 banding 1. Tercatat 269 saham mencetak level tertinggi baru dan 72 saham terendah baru. Di Nasdaq, 2.781 saham naik dan 1.890 saham turun. Volume perdagangan di bursa AS mencapai 24,60 miliar saham, jauh di atas rata-rata 17,19 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.