New York – Bursa saham Wall Street bergerak relatif datar dalam perdagangan singkat menjelang Malam Natal pada Rabu (24/12/2025). Investor masih menunggu kepastian apakah pasar saham dapat melanjutkan kenaikan ke level rekor di periode yang secara musiman dikenal positif bagi pasar keuangan.
Indeks acuan S&P 500 tercatat hanya sekitar 0,1% di bawah rekor tertinggi intraday, setelah mencetak penutupan tertinggi sepanjang masa pada Selasa sebelumnya.
Pergerakan ini terjadi di tengah evaluasi investor terhadap sejumlah data ekonomi terbaru yang memberikan gambaran bercampur mengenai kondisi ekonomi Amerika Serikat. Data-data tersebut sekaligus tidak banyak mengubah ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter tahun depan.
Data Ekonomi AS Campuran, Pasar Tenaga Kerja Tetap Stabil
Data pemerintah yang dirilis Selasa menunjukkan ekonomi AS tumbuh pada laju tercepat dalam dua tahun terakhir pada kuartal III. Publikasi data ini sempat tertunda 43 hari akibat penutupan pemerintahan federal.
Namun, optimisme tersebut tertahan oleh melemahnya kepercayaan konsumen pada Desember. Produksi pabrik November juga dilaporkan stagnan.
Sementara itu, data terbaru pada Rabu menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran AS secara tak terduga turun pada pekan lalu. Hal ini menandakan pasar tenaga kerja masih relatif solid.
“Terlepas dari volatilitas musiman yang masih berlangsung, klaim awal pengangguran tetap berada pada kisaran yang konsisten dengan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil dan tidak mengubah pandangan kami terhadap pasar tenaga kerja maupun kebijakan The Fed,” ujar Nancy Vanden Houten, Kepala Ekonom di Oxford Economics.
Harapan “Santa Claus Rally” Menguat
Kenaikan saham AS dalam beberapa waktu terakhir kembali memunculkan harapan akan terjadinya “Santa Claus rally”. Ini merupakan fenomena musiman ketika S&P 500 mencatatkan kenaikan pada lima hari perdagangan terakhir di akhir tahun dan dua hari pertama Januari, menurut Stock Trader’s Almanac.
Periode tersebut dimulai pada Rabu ini dan berlangsung hingga 5 Januari.
Indeks volatilitas Wall Street atau “fear gauge” VIX tercatat berada di dekat level terendah sejak Desember 2024. Ini mencerminkan sentimen pasar yang relatif tenang.
Volume Perdagangan Tipis Jelang Libur Natal
Volume transaksi diperkirakan tetap tipis. Pasar saham AS tutup lebih awal pukul 13.00 waktu setempat (18.00 GMT) pada Rabu dan libur penuh pada Kamis untuk memperingati Hari Natal.
Pada pukul 09.40 waktu setempat, kinerja indeks utama Wall Street tercatat sebagai berikut:
- Dow Jones Industrial Average naik 39,02 poin atau 0,08% ke level 48.481,43
- S&P 500 naik tipis 0,01% ke 6.909,91
- Nasdaq Composite turun 0,12% ke 23.533,20
Sebanyak enam dari 11 sektor di S&P 500 bergerak di zona hijau. Sektor kesehatan memimpin penguatan, sementara sektor energi menjadi yang terlemah.
Volatilitas Tinggi Sepanjang Tahun, Tren Bullish Tetap Terjaga
Sepanjang tahun ini, pasar saham AS mengalami fluktuasi tajam. Ini disebabkan oleh isu tarif, kekhawatiran valuasi tinggi pada saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI), serta perubahan cepat ekspektasi suku bunga.
Meskipun demikian, tren pasar bullish yang dimulai sejak Oktober 2022 tetap terjaga. Optimisme terhadap AI, prospek penurunan suku bunga, dan ketahanan ekonomi AS menopang sentimen pasar.
Tiga indeks utama Wall Street berpeluang mencatatkan kenaikan tahunan untuk tahun ketiga berturut-turut. Ke depan, pasar global juga akan mencermati isu suksesi Ketua The Fed Jerome Powell, setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa siapa pun yang tidak sejalan dengannya “tidak akan pernah menjadi Ketua The Fed”.
Pergerakan Saham Individual
Di antara saham-saham individual:
- Nike melonjak 4,7% setelah CEO Apple Tim Cook, yang juga direktur independen utama Nike, membeli saham senilai sekitar US$3 juta.
- Intel turun 2% menyusul laporan bahwa Nvidia menghentikan pengujian manufaktur pada node chip 18A milik Intel.
- Dynavax Technologies melonjak tajam 38,5% setelah perusahaan farmasi Prancis Sanofi mengumumkan rencana akuisisi senilai sekitar US$2,2 miliar.
Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham yang turun melampaui saham yang naik dengan rasio 1,12 banding 1. Sementara itu, di Nasdaq rasio tersebut mencapai 1,23 banding 1.
S&P 500 mencatatkan enam level tertinggi baru dalam 52 minggu dan satu level terendah baru. Nasdaq Composite membukukan 28 saham pada level tertinggi baru dan 72 saham pada level terendah baru.












