Pariaman – Pemerintah Kota Pariaman tengah mengintensifkan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat pasca-bencana banjir dan longsor yang melanda sejak November 2025. Fokus utama saat ini adalah penanganan kerusakan infrastruktur dan lahan pertanian yang terdampak.

Bencana yang disebabkan oleh meluapnya Sungai Batang Mangoi, khususnya di Dusun Sampan, Desa Punggung Ladiang, Kecamatan Pariaman Selatan, telah mengakibatkan kerusakan yang signifikan. Daerah dataran rendah di sepanjang bantaran sungai terendam banjir, sementara wilayah yang lebih tinggi mengalami longsor akibat runtuhnya tebing sungai.

Kondisi ini memaksa sejumlah warga untuk mengungsi setelah rumah mereka terendam banjir dan tertimbun material longsor. Pemerintah Kota Pariaman berupaya mengambil langkah-langkah penanganan secepat mungkin.

Dalam pertemuan virtual dengan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, Walikota Pariaman, Yota Balad, menyampaikan data kerusakan yang cukup memprihatinkan. “Total rumah yang mengalami kerusakan sebanyak 55 rumah, 10 di antaranya kondisi rusak berat,” ujarnya di ruang Walikota, Senin (5/1). Selain kerusakan rumah, sekitar 800 hektare lahan pertanian juga terdampak bencana ini.

Pemerintah Kota Pariaman berharap Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dapat memberikan bantuan untuk menormalisasi aliran Sungai Batang Mangoi sepanjang 14 kilometer. Menurutnya, kondisi sungai saat ini berada pada zona merah karena abrasi mengancam lahan pertanian dan permukiman warga di sekitar bantaran sungai.

“Kami berharap penanganan dari Pemprov Sumbar sesegera mungkin, dan memohon arahan dari Gubernur terkait langkah-langkah penanganan pasca bencana ini,” tegasnya, menekankan urgensi penanganan dari pemerintah provinsi.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.