Jakarta – Prospek PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diperkirakan tetap solid hingga tahun 2026, didorong oleh pemulihan daya beli masyarakat secara bertahap. Kinerja perusahaan akan ditopang oleh penguatan merek inti serta penyelesaian pemisahan bisnis es krim. Mayoritas analis merekomendasikan beli saham ini.

Sebagai salah satu perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) terbesar di Indonesia, Unilever berada di bawah naungan grup global Unilever Plc. Perseroan mengoperasikan manufaktur, distribusi, dan pengelolaan merek dengan portofolio sekitar 45 merek di kategori Home & Personal Care (HPC) serta Foods & Refreshment (F&R).

Jaringan distribusi UNVR didukung 34 depo yang menjangkau sekitar 3,5 juta gerai ritel di seluruh Indonesia.

Analis Fundamental BRI Danareksa, Abida Massi Armand, menilai prospek UNVR sepanjang 2026 tetap tangguh. Hal ini berkat keberhasilan perusahaan memperkuat 14 “Power Brands” seperti Pepsodent, Royco, Lifebuoy, Vaseline, dan Bango.

Sepanjang 2025, UNVR tidak meluncurkan merek baru. Perusahaan memilih fokus memperkuat portofolio produk yang sudah ada, sekaligus mengantisipasi potensi tekanan kenaikan harga bahan baku yang dapat menekan margin.

Menurut Abida, strategi tersebut membuat biaya pemasaran lebih efisien. Ini juga memungkinkan perusahaan memusatkan inovasi pada produk premium di kategori Beauty & Wellbeing serta Personal Care.

Permintaan pada segmen ini terus meningkat seiring tren “skinification”. Loyalitas konsumen yang kuat terhadap produk inti menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing UNVR di pasar FMCG yang semakin selektif.

Katalis utama kinerja UNVR pada 2026 juga berasal dari penyelesaian pemisahan unit bisnis es krim. Unit ini dialihkan ke PT Magnum Ice Cream. Langkah ini memberikan dana segar sekitar Rp 7 triliun dan merampingkan struktur operasional sehingga perusahaan dapat fokus pada kategori dengan margin lebih tinggi.

Dari sisi distribusi, Equity Research Analyst Ajaib Sekuritas, Rizal Rafly, menyebut inisiatif “More Stores, Better Stores” serta transformasi digital pada jalur distributive trade (DT) memperkuat efisiensi distribusi.

Dengan model bisnis asset-light dan kebijakan pembagian dividen 100%, UNVR dipandang sebagai saham konsumer defensif dengan kemampuan menghasilkan arus kas yang kuat. Rizal menilai prospek pemulihan laba, ekspansi margin, dan imbal hasil pemegang saham UNVR tetap menarik di tengah perbaikan bertahap industri FMCG.

Namun, beberapa risiko perlu dicermati. Ini termasuk pemulihan konsumsi yang lebih lambat, tekanan biaya bahan baku, serta potensi keterlambatan pelaksanaan inisiatif transformasi.

Sementara itu, Senior Equity Analyst Phillip Sekuritas, Helen, menyebut perbaikan kinerja UNVR ke depan akan ditopang oleh membaiknya permintaan. Faktor lain adalah portofolio merek yang seimbang antara segmen mass market dan premium, serta pergeseran fokus ke kategori dengan pertumbuhan tinggi.

Perusahaan juga terus memperluas jangkauan ritel, memperkuat tenaga penjualan, meningkatkan kontribusi program Sahabat Warung, serta mengembangkan kanal Health & Beauty (HABA) dan e-commerce. Abida menambahkan, program Sahabat Warung terbukti meningkatkan efisiensi distribusi langsung dan menjadi pendorong profitabilitas dari sisi internal.

Meski demikian, UNVR tetap perlu mewaspadai sentimen makro. Contohnya adalah implementasi mandatori biodiesel B50 yang berpotensi menaikkan harga bahan baku CPO, serta penyesuaian tarif PPN yang dapat memengaruhi daya beli pada segmen produk sensitif harga.

Untuk 2026, Abida memproyeksikan UNVR memasuki fase stabil dengan pertumbuhan laba bersih berkelanjutan sekitar 5,8% secara tahunan (YoY) dan pertumbuhan pendapatan sekitar 2,1% YoY. Kemampuan perusahaan menjaga margin kotor di kisaran 48% melalui disiplin biaya dan digitalisasi operasional menjadi kunci pertumbuhan laba yang sehat di tengah tantangan ekonomi.

Abida merekomendasikan beli saham UNVR dengan target harga Rp 3.200 per saham. Helen juga memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp 2.900 per saham, sementara Rizal merekomendasikan beli dengan target harga Rp 3.100 per saham.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.