Padang – Universitas Negeri Padang (UNP) menunjukkan komitmennya dalam membantu Sumatera Barat bangkit kembali pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut. Bentuk keseriusan itu diwujudkan melalui pertemuan koordinasi internal yang melibatkan para dosen, Kamis (8/1/2025).

Pertemuan tersebut menjadi wadah bagi para akademisi untuk bertukar pikiran dan menyusun strategi yang efektif dalam mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah-wilayah yang terdampak bencana. Inisiatif ini merupakan bagian dari partisipasi aktif UNP dalam Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Sumatera, yang dikoordinasi oleh Institut Teknologi Bandung (ITB). Konsorsium ini melibatkan sebelas perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, termasuk Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Andalas, dan Universitas Syiah Kuala.

Pembentukan konsorsium ini merupakan respons terhadap dampak signifikan yang ditimbulkan oleh Tropical Cyclone Senyar pada akhir November 2025. Bencana tersebut menyebabkan kerusakan parah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, termasuk banjir bandang, aliran sedimen pekat, kerusakan infrastruktur vital, serta kerusakan permukiman dan lahan pertanian. Upaya pemulihan yang direncanakan juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) ke-13 tentang penanganan perubahan iklim dan SDG ke-15 tentang ekosistem daratan.

Rektor UNP, Krismadinata, menekankan pentingnya peran akademisi dalam memberikan kontribusi pemikiran strategis dan inovatif. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Sidang Senat ini bertujuan untuk merumuskan strategi pemulihan komprehensif yang mencakup berbagai aspek, mulai dari lingkungan dan prasarana umum hingga ekonomi dan sosial-psikologis masyarakat yang terdampak di Sumatera Barat. Pendekatan holistik ini sejalan dengan prinsip SDG ke-11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan serta SDG ke-3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera.

“Kami mengajak bapak/Ibu untuk berkolaborasi dengan perguruan tinggi lainnya yang tergabung dalam konsorsium, menyiapkan langkah-langkah strategis sesuai dengan bidang keilmuan Bapak/Ibu agar bisa dikonsolidasikan dan disinergikan dengan perguruan tinggi lain yang ada di dalam Konsorsium,” ungkap Rektor.

Sebagai anggota konsorsium, UNP diharapkan dapat berperan aktif dalam berbagai Kelompok Kerja Teknis (Pokja) yang relevan dengan kompetensi dan kebutuhan daerah. Pokja tersebut meliputi tata ruang, hunian, dan permukiman; pendidikan dan literasi kebencanaan; ekonomi, sosial, dan budaya; serta kesehatan, psikososial, dan pendidikan.

Konsorsium ini mengadopsi prinsip “Build Back Better” yang menekankan pembangunan yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan. Prinsip ini merupakan implementasi dari SDG ke-9 dan ke-11. Rencana kerja konsorsium dibagi menjadi tiga tahap: jangka pendek (0-6 bulan) untuk penyusunan peta jalan, jangka menengah (6-24 bulan) untuk pendampingan dan rekonstruksi, serta jangka panjang (2-5 tahun) untuk penguatan sistem dan replikasi model.

Melalui pertemuan ini, UNP tidak hanya mempersiapkan kontribusi teknis tetapi juga memperkuat posisinya sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam pemulihan pascabencana. Dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) diharapkan dapat memfasilitasi integrasi hasil kajian akademik ke dalam kebijakan dan perencanaan pembangunan daerah yang lebih tangguh menghadapi bencana di masa depan, sebagai kontribusi nyata terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.