Padang – Universitas Negeri Padang (UNP) tengah memantapkan diri sebagai entrepreneurial university melalui serangkaian strategi penelitian dan pengabdian masyarakat. Hal ini terungkap dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNP selama tiga hari di UNP Convention Hotel.
Fokus utama kegiatan tersebut adalah memverifikasi luaran revisi Rencana Strategis (Renstra) Penelitian-Pengabdian serta memfinalisasi panduan penelitian dan pengabdian masyarakat untuk tahun 2026. Kegiatan ini dinilai penting dalam menentukan arah kebijakan riset dan pengabdian UNP untuk lima tahun ke depan.
Rangkaian acara meliputi pemetaan awal arah kebijakan, evaluasi capaian periode sebelumnya, dan penyelarasan visi riset dan pengabdian dengan transformasi UNP sebagai entrepreneurial university. Pada hari kedua, setiap pusat di LPPM UNP mempresentasikan peta jalan, skema program, dan target luaran unggulan. Verifikasi akhir, sinkronisasi lintas pusat, serta pematangan indikator kinerja dan luaran strategis menjadi agenda utama di hari terakhir.
Kepala LPPM UNP, Anton Komaini, menegaskan bahwa Renstra 2025–2029 harus menjadi panduan kerja yang dinamis. “Renstra ini tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif. Ia harus menjadi panduan kerja yang hidup, terukur, dan berdampak,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa selama tiga hari tersebut, pihaknya berupaya memastikan setiap program, skema, dan luaran memiliki arah yang jelas serta selaras dengan kebutuhan nasional dan global.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Pusat Penelitian, Publikasi, dan Kekayaan Intelektual, Hendra Hidayat, menyoroti pentingnya kualitas dan konsistensi capaian akademik. Ia menjelaskan bahwa verifikasi luaran bertujuan untuk memastikan target publikasi, paten, dan kekayaan intelektual tidak hanya ambisius, tetapi juga realistis dan berbasis peta jalan riset yang kuat. “Verifikasi luaran memastikan bahwa target publikasi, paten, dan kekayaan intelektual tidak hanya ambisius, tetapi juga realistis dan berbasis peta jalan riset yang kuat,” ujarnya. Ia berharap Renstra ini dapat meningkatkan produktivitas dosen secara kuantitas, kualitas, dan reputasi internasional.
Kepala Pusat Science Techno Park dan Inovasi, Ifdil, menekankan pentingnya orientasi hilirisasi dan dampak inovasi. Ia berpendapat bahwa riset UNP harus bertransformasi menjadi inovasi yang dirasakan masyarakat. “Renstra ini menjadi jembatan antara laboratorium dan dunia nyata, antara artikel ilmiah dan teknologi, layanan, serta produk yang memberi manfaat luas dan berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat dan KKN, Yasdinul Huda, menekankan integrasi riset dan pengabdian. Ia mengatakan bahwa pengabdian ke depan harus berbasis riset dan inovasi. “Pengabdian ke depan harus berbasis riset dan inovasi,” katanya. Dengan pendekatan ini, intervensi di masyarakat diharapkan menjadi lebih tepat sasaran, terukur dampaknya, dan berkelanjutan. Ia menambahkan bahwa kegiatan pengabdian bukan lagi program sesaat, tetapi bagian dari ekosistem keilmuan UNP.
Diskusi intensif dan kolaboratif mewarnai kegiatan selama tiga hari tersebut. Sinkronisasi lintas pusat dilakukan untuk memastikan kesinambungan antara riset dasar, riset terapan, publikasi, hilirisasi inovasi, hingga implementasi di masyarakat. LPPM UNP optimis bahwa Renstra Penelitian dan Pengabdian 2025–2029 akan menjadi fondasi kuat dalam mengakselerasi peran UNP sebagai pusat unggulan riset, inovasi, dan pengabdian yang berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah, nasional, dan global.











