Padang — Industri perikanan Sumatra Barat kembali mencatat tonggak penting dalam kiprahnya di kancah ekspor nasional.

Pada Jumat (9/5), Menteri Perdagangan Budi Santoso secara resmi melepas satu kontainer frozen yellow fin tuna loin senilai USD 90 ribu atau sekitar Rp1,87 miliar ke Uni Emirat Arab (UEA).

Prosesi pelepasan ekspor ini berlangsung di fasilitas PT Dempo Andalas Samudera, Kota Padang, sekaligus menandai dimulainya babak baru bagi pelaku usaha perikanan Sumbar dalam merambah pasar Timur Tengah.

Produk unggulan laut ini menjadi representasi konkret bagaimana kekuatan sumber daya lokal mampu menembus rantai suplai global.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran strategis dari Kementerian Perdagangan, seperti Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi dan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Iqbal Shoffan Shofwan.

Kehadiran Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi Ansharullah, investor Aruna Holding Avina Sugiarto, Chief Sustainability Officer & Co-Founder Aruna Indonesia Utari Octavianty, serta Direktur PT Dempo Andalas Samudera Robby Ferliansyah memperkuat simbol kolaborasi lintas sektor dalam mendorong ekspor berkelanjutan dari daerah.

Akses Pasar Lebih Luas Lewat Perjanjian Strategis

Dalam sambutannya, Menteri Budi Santoso menekankan pentingnya memaksimalkan berbagai perjanjian perdagangan yang telah dijalin pemerintah, terutama dalam mendorong pelaku usaha dan UMKM untuk menembus pasar global.

Ekspor ke UEA, lanjutnya, kini semakin terbuka berkat implementasi Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) Indonesia–UEA.

Melalui CEPA, sekitar 94 persen pos tarif dihapuskan atau diturunkan, memberi keuntungan signifikan bagi produk ekspor nasional, termasuk sektor perikanan.

“Kita harus cerdas memanfaatkan peluang yang sudah terbuka. CEPA bukan hanya dokumen, tapi jembatan nyata menuju pasar yang lebih luas. Selain dengan UEA, kita segera teken CEPA dengan Tunisia, dan perundingan dengan Uni Eropa pun tengah dikebut. Potensi pasar di sana sangat besar,” ujar Mendag Budi.

Simbol Ketangguhan Ekosistem Perikanan

Ekspor tuna beku ini bukan sekadar pengiriman komoditas, melainkan wujud konkret dari kerja keras dan ketangguhan ekosistem perikanan Sumbar. Dari nelayan di garis depan, para pekerja di lini produksi, hingga tim manajerial dan pemangku kebijakan, semuanya mengambil peran dalam menghadirkan kualitas produk yang memenuhi standar ekspor.

Chief Sustainability Officer & Co-Founder Aruna Indonesia, Utari Octavianty, mengapresiasi dukungan Kementerian Perdagangan dalam membuka koneksi bisnis antara PT Dempo Andalas Samudera dengan mitra dagang di UEA.

“Di tengah dinamika global yang tidak menentu, industri perikanan kita harus tetap berdiri kokoh. Ekspor ini adalah bukti bahwa kerja keras dan kolaborasi semua pihak dapat membuahkan hasil yang membanggakan,” kata Utari.

Sumbar Siap Jadi Pilar Ekspor Nasional

Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi menyampaikan bahwa melalui program Export Coaching dari Kemendag, Sumbar berhasil mencetak 60 eksportir baru dalam beberapa tahun terakhir.

Ia berharap pemerintah pusat terus memperkuat dukungan, baik dalam bentuk fasilitasi pameran dagang maupun akses informasi pasar luar negeri.

Langkah strategis Kemendag membuka pasar ekspor ke negara-negara nontradisional juga diapresiasi. Di tengah tantangan global seperti perang dagang dan proteksionisme, Indonesia membutuhkan diversifikasi pasar agar ekspor tidak bergantung pada satu wilayah saja.

Menteri Budi Santoso menegaskan, makin banyak perjanjian dagang yang terjalin, maka makin besar pula kepercayaan diri eksportir Indonesia untuk berekspansi secara agresif dan kompetitif ke pasar dunia.

Ekspor perdana tuna beku dari Sumatra Barat ke UEA hari ini menjadi bukti sinergi antara diplomasi perdagangan, inovasi industri, dan kekuatan sumber daya daerah. Capaian ini tidak hanya berdampak pada nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok perikanan global.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.