Washington – Gedung Putih telah merilis proposal perdamaian 21 poin yang dirancang untuk mengakhiri serangan Israel di Jalur Gaza. Konflik yang telah berlangsung selama hampir dua tahun ini telah menewaskan lebih dari 66 ribu warga Palestina dan menyebabkan kehancuran besar di wilayah tersebut. Proposal ini, yang disusun oleh mantan Presiden Donald Trump, akan diajukan kepada Israel dan Hamas dengan harapan dapat segera menghentikan pertempuran.

Jika kedua belah pihak menerima, proposal tersebut menjanjikan penghentian serangan Israel, pembebasan sandera yang ditahan Hamas, dan tahanan Palestina di Israel dalam waktu 72 jam. Selain itu, Jalur Gaza akan dipimpin oleh pemerintahan sementara yang bersifat teknokratis tanpa keterlibatan Hamas, serta Israel tidak akan mencaplok wilayah tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan menyambut baik dan menerima proposal Amerika Serikat tersebut. Sementara itu, pada Selasa, seorang pejabat Hamas, Mahmoud Mardawi, menyatakan pihaknya belum menerima salinan tertulis dari proposal perdamaian Gaza itu.

Detail-detail penting dalam proposal perdamaian yang diusulkan ini meliputi sejumlah poin krusial untuk masa depan Gaza. Berikut adalah inti dari 21 poin proposal tersebut:

  • Gaza akan menjadi zona bebas teror yang tidak akan menimbulkan ancaman bagi tetangganya.
  • Gaza akan dibangun kembali demi kepentingan rakyatnya.
  • Jika kedua pihak menyepakati proposal ini, perang akan segera berhenti. Pasukan Israel akan menarik diri, seluruh operasi militer akan dihentikan, dan garis pertarungan dibekukan.
  • Dalam 72 jam setelah Israel secara terbuka menerima proposal, seluruh sandera, baik hidup maupun mati, akan dipulangkan.
  • Setelah semua sandera dipulangkan, Israel akan membebaskan 250 tahanan seumur hidup, termasuk 1.700 warga Gaza yang ditangkap setelah 7 Oktober 2023, termasuk anak-anak dan perempuan. Untuk setiap jenazah sandera Israel yang dipulangkan, Israel akan memulangkan 15 jenazah warga Gaza.
  • Anggota Hamas yang berkomitmen untuk hidup berdampingan secara damai dan menonaktifkan senjata mereka akan diberikan amnesti. Anggota Hamas yang ingin meninggalkan Gaza akan diberi jalur aman ke negara penerima.
  • Setelah proposal diterima, bantuan penuh akan segera dikirim ke Jalur Gaza, minimal sesuai perjanjian 19 Januari 2025 mengenai bantuan kemanusiaan dan rehabilitasi infrastruktur.
  • Penyaluran dan distribusi bantuan ke Jalur Gaza akan berlangsung tanpa campur tangan dari kedua belah pihak melalui PBB, Bulan Sabit Merah, dan lembaga internasional lainnya. Pembukaan perlintasan Rafah akan tunduk pada mekanisme yang sama.
  • Gaza akan diperintah di bawah pemerintahan transisi sementara oleh komite Palestina yang teknokratis dan apolitis, dengan pengawasan oleh “Dewan Perdamaian” yang akan dipimpin oleh Presiden Donald J. Trump. Badan ini akan menetapkan kerangka kerja dan menangani pendanaan pembangunan kembali Gaza.
  • Rencana pembangunan ekonomi Trump untuk membangun kembali dan memberi energi pada Gaza akan disusun dengan panel ahli, mempertimbangkan proposal investasi untuk menciptakan lapangan kerja dan peluang.
  • Sebuah zona ekonomi khusus akan dibentuk, dengan tarif dan tingkat akses yang diutamakan yang akan dinegosiasikan dengan negara-negara peserta.
  • Tidak seorang pun akan dipaksa meninggalkan Gaza; mereka yang ingin pergi bebas untuk melakukannya dan bebas untuk kembali.
  • Hamas dan faksi-faksi lainnya tidak akan memiliki peran apa pun dalam pemerintahan Gaza, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  • Semua infrastruktur militer, teror, dan ofensif, termasuk terowongan dan fasilitas produksi senjata, akan dihancurkan dan tidak dibangun kembali. Akan ada proses demiliterisasi Gaza di bawah pengawasan pemantau independen.
  • Jaminan akan diberikan oleh mitra regional untuk memastikan Hamas dan faksi-faksi mematuhi kewajiban mereka dan bahwa Gaza yang baru tidak menimbulkan ancaman.
  • Amerika Serikat akan bekerja sama dengan mitra-mitra Arab dan internasional untuk mengembangkan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) sementara yang akan segera ditempatkan di Gaza. ISF akan melatih dan mendukung pasukan polisi Palestina dan membantu mengamankan wilayah perbatasan bersama Israel dan Mesir.
  • Israel tidak akan menduduki atau mencaplok Gaza. Militer Israel akan mundur secara bertahap seiring ISF membangun kontrol dan stabilitas, kecuali perimeter keamanan yang akan tetap ada hingga Gaza aman dari ancaman teror.
  • Jika Hamas menunda atau menolak proposal ini, hal-hal di atas, termasuk operasi bantuan yang ditingkatkan, akan dilanjutkan di wilayah bebas teror yang diserahkan militer Israel kepada ISF.
  • Proses dialog antaragama akan dibentuk berdasarkan nilai-nilai toleransi dan koeksistensi damai untuk mengubah pola pikir dan narasi warga Palestina dan Israel.
  • Seiring kemajuan pembangunan kembali Gaza dan pelaksanaan program reformasi Otoritas Palestina, kondisi akan tercipta untuk jalur kredibel menuju penentuan nasib sendiri dan kenegaraan Palestina.
  • Amerika Serikat akan membangun dialog antara Israel dan Palestina untuk menyepakati cakrawala politik bagi koeksistensi yang damai dan sejahtera.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.