Washington D.C. – Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memberi Hamas batas waktu 3-4 hari untuk memberikan respons terhadap proposal perdamaian dan gencatan senjata di Gaza. Proposal 20 poin tersebut didukung dan disepakati oleh negara-negara Arab serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Trump memperingatkan bahwa jika Hamas tidak menyetujuinya, “ini akan berakhir dengan sangat menyedihkan.” Pernyataan ini disampaikan Trump di Gedung Putih pada Rabu (1/10).
Saat ditanya mengenai ruang lingkup negosiasi untuk proposal tersebut, Trump menyatakan bahwa “Tidak banyak” kesempatan. Ia kemudian mengucapkan terima kasih kepada Netanyahu atas persetujuannya terhadap proposal itu.
Tim negosiasi Hamas dilaporkan sedang mempelajari proposal yang diajukan Trump. Kementerian Luar Negeri Qatar mengonfirmasi informasi ini. Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani mengatakan bahwa beberapa poin dalam proposal tersebut membutuhkan klarifikasi dan negosiasi. Namun, ia berharap semua pihak dapat melihat proposal itu secara konstruktif dan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengakhiri perang.
“Kami menjelaskan kepada Hamas dalam pertemuan kami kemarin, bahwa tujuan utama kami adalah menghentikan perang,” kata Sheikh Mohammed. Ia menambahkan, Hamas bertindak secara bertanggung jawab dan berjanji akan mempelajari proposal tersebut.
Sementara itu, faksi politik Palestina Fatah, yang mendominasi Otoritas Palestina di Tepi Barat, menyambut baik upaya AS untuk mengakhiri perang dan melindungi warga sipil. Fatah menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan semua pihak guna mengamankan gencatan senjata, mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza, memastikan pembebasan semua sandera dan tahanan Palestina, serta membentuk mekanisme internasional untuk melindungi warga Palestina.
Fatah juga menegaskan kembali janji Presiden Mahmoud Abbas untuk menggelar pemilu satu tahun setelah perang berakhir.
Namun, pejabat senior Fatah, Abbas Zaki, mengecam proposal AS. Ia menyebutnya sebagai dokumen penyerahan diri tanpa persetujuan Palestina. Zaki memperingatkan bahwa menerima proposal itu dapat melanggengkan penghinaan, melegitimasi pendudukan, dan memecah belah persatuan Palestina. Abbas Zaki juga menuduh AS dan Israel berusaha melenyapkan perjuangan Palestina.











