Oleh Hendri Nova
Wartawan Topsatu.com
Transformasi kini menjadi kata kunci, bagi semua perusahaan yang ingin tetap eksis dan melaju seiring kemajuan zaman. Perusahaan yang tidak mau atau enggan bertransformasi, dengan sendirinya kena seleksi alam, tersingkir digilas kemajuan zaman.
Sudah tak terhitung jumlah usaha yang bergerak di bidang transportasi yang dulunya sangat terkenal, namun karena enggan bertransformasi akhirnya gulung tikar. Nama mereka tenggelam digilas waktu yang terus berjalan.
Namun tidak demikian halnya dengan Bluebird yang sudah dari #53laluDiandelin, dan kini masih tetap diandalkan Indonesia dalam dunia transportasi. Merek Bluebird kini melekat erat buat jenis transportasi jenis taksi, sehingga ketika ditanya apa taksi paling bagus di Indonesia? Jawabnya langsung otomatis Bluebird. Mirip dengan salah satu produk motor dan mobil, ataupun salah satu merek pasta gigi, dan beberapa merek legend lainnya.
Kenapa Bluebird selalu ada dalam pikiran rakyat Indonesia? Itu karena kesan positif yang telah ditorehkan Bluebird, sebagai prestasi yang belum terkalahkan hingga saat ini.
Sudah banyak yang mencoba menjadi kompetitor Bluebird, namun semuanya tergilas dan jarang yang bisa bertahan lama. Keberadaan mereka paling lama satu atau dua tahun saja paling lama, setelah itu hilang dari peredaran.
Hal ini jelas satu keuntungan bagi Bluebird, karena brand mereka sudah menjadi hak paten alami untuk kategori taksi. Keistimewaan ini harus dijaga Bluebird, dengan terus bertransformasi mengikut cepatnya perubahan yang terjadi.
Sekilas Transformasi
Secara umum, transformasi dikenal sebagai perubahan rupa, bentuk, sifat, atau fungsi secara mendasar dan menyeluruh. Perubahan ini biasanya bersifat signifikan, bertahap, dan sering kali menghasilkan sesuatu yang sama sekali berbeda dari wujud asalnya.
Sedangkan Transformasi dalam bisnis mengacu pada perubahan radikal dalam cara sebuah perusahaan beroperasi, sering kali didorong oleh inovasi teknologi atau perubahan pasar. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi, daya saing, dan pertumbuhan bisnis.
Sementara syarat utama transformasi dalam dunia bisnis, meliputi komitmen yang kuat dari pimpinan (top management), visi yang jelas dan terarah, tim eksekusi yang kompeten, budaya organisasi yang adaptif, pemanfaatan teknologi sebagai enabler yang strategis, serta komunikasi yang konsisten dan transparan kepada seluruh pemangku kepentingan.
Transformasi Bluebird
Nah, Bluebird sendiri telah melakukan transformasi yang berkelanjutan, mulai dari awal terjun ke bisnis transportasi hingga saat ini. Bluebird menunjukkan evolusi dari bisnis taksi konvensional menjadi penyedia layanan transportasi terintegrasi yang memanfaatkan teknologi digital dan komitmen terhadap transformasi keberlanjutan.
Jika awalnya fokus pada penyediaan layanan taksi yang berkualitas dengan sistem argometer, kini Bluebird terus berkembang, dengan memperkenalkan teknologi seperti AC pada armada, lalu melakukan digitalisasi melalui komputerisasi dan aplikasi pemesanan.
Kini, Bluebird juga mengadopsi teknologi canggih seperti Big Data, Internet of Things (IoT), dan Mobility-as-a-Service (MaaS) untuk menciptakan ekosistem layanan yang terintegrasi, serta meluncurkan armada kendaraan listrik (EV) untuk mewujudkan visi bisnis dan lingkungan yang berkelanjutan.
Lebih rincinya untuk transformasi dari tahap awal & inovasi produk yang telah dilakukan, bisa dilihat mulai dari tahun 1965. Waktu itu, Ibu Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono memulai bisnis taksi secara informal.
Lalu pada tahun 1972, Bluebird menjadi taksi pertama yang menggunakan sistem tarif argometer, dengan armada awal Holden Torana. Lanjut pada tahun 1979, tersedialah armada bus Big Bird yang mulai beroperasi sebagai layanan antar jemput.
Selanjutnya pada tahun 1981, Taksi Bluebird mulai dilengkapi Air Conditioner (AC), untuk meningkatkan kenyamanan penumpang. Lanjut di tahun 1993, tersedialah layanan taksi eksekutif Silverbird.
Terkait digitalisasi & pengembangan teknologi, pada tahun 1994, Bluebird memperkenalkan sistem komputerisasi untuk call center. Lanjut di tahun 2004, sistem Radio Mobile Data Terminal dan Device SIgteg mulai digunakan untuk penyebaran order yang lebih efisien.
Kemudian di tahun 2007, Bluebird meresmikan taksi eksekutif pertama dengan armada Mercedes-Benz. Lanjut di tahun 2012, Big Bird meluncurkan varian premium bus kelas VIP.
Berikutnya di tahun 2014, mulailah dilakukan peluncuran aplikasi Taxi Mobile Reservation (TMR) yang memungkinkan pemesanan taksi bisa dilakukan dengan cara mudah.
Pada 2019, transformasi Bluebird makin memuncak, dengan diluncurkan armada mobil listrik pertama (E-Bluebird dan E-Silverbird), menjadi taksi listrik pertama di Indonesia.
Terkait transformasi digital menuju MaaS, dimulai di tahun 2018, dengan dilakukannya pemanfaatan teknologi Cloud dan Big Data untuk analisis Supply & Demand dan peningkatan efisiensi.
Lanjut pada tahun 2019-2022, ditandatanganilah surat kerja sama dengan Telkomsel, untuk mengoptimalkan penggunaan IoT dan Big Data.
Pada 2020, Bluebird dinobatkan sebagai “Digital Transformer” untuk Indonesia pada IDC Digital Transformation Award. Lanjut di tahun 2022, dilakukanlah pengembangan sistem Mobility-as-a-Service (MaaS) dengan pilar Multi-Channel, Multi-Payment, dan Multi-Product untuk menciptakan ekosistem transportasi terintegrasi.
Sementara untuk komitmen keberlanjutan & inovasi terbaru, dilakukan pada tahun 2023 yakni dengan dilakukannya implementasi panel surya pintar di kantor pusat, untuk mendukung transisi energi dan mengurangi emisi karbon.
Nah, saat ini, Bluebird terus berinovasi dan berkolaborasi dengan mitra seperti Gojek, Traveloka, dan Garuda Indonesia, untuk memperluas jaringan layanan transportasi.
Semua ini dilakukan Bluebird untuk mendukung visi keberlanjutan. Bluebird menekankan visi keberlanjutan bisnis dan lingkungan, melalui penggunaan teknologi dan gerakan #birukanlangitjakarta.
Buah Transformasi
Buah transformasi yang telah dilakukan Bluebird, tampak pada semester pertama tahun 2025 dengan capaian kinerja yang kembali menunjukkan konsistensi dan ketangguhan bisnis. Perusahaan berhasil mencatat pendapatan sebesar Rp2,67 triliun, tumbuh sekitar 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih juga meningkat 27,4% menjadi Rp339,1 miliar, sementara EBITDA tumbuh 21% sebesar Rp671,9 miliar. Pertumbuhan ini turut ditopang oleh kinerja positif di kuartal II 2025.
Selama tiga bulan terakhir, pendapatan Bluebird tercatat tumbuh 13,3%, sementara laba bersih dan EBITDA masing – masing meningkat 15,6% dan 17,7% dibandingkan kuartal II tahun sebelumnya .
Pertumbuhan pendapatan di kuartal II jika dibandingkan periode yang sama dengan tahun lalu juga terlihat merata di seluruh lini layanan. Segmen taksi mencatatkan pertumbuhan 11,7%, sementara non – taksi — meliputi sewa mobil dan bus, shuttle, logistik, jual be li dan maintenance kendaraan, serta lelang — mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi yaitu 17,1%.
Kontribusi dua segmen ini terbagi menjadi 69% dari layanan taksi dan 31% dari non – taksi, menunjukkan portofolio usaha yang semakin terdiversifikasi secara sehat.
Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Adrianto (Andre) Djokosoetono , menyampaikan bahwa pencapaian ini mencerminkan efektivitas strategi perusahaan, dalam mempertahankan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan di tengah dinamika industri.
“Kami menyadari bahwa menjaga relevansi di industri mobilitas tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan. Karena itu, kami terus mendorong efisiensi, memperkuat transformasi digital, dan memperluas layanan berbasis kebutuhan pelanggan — menjangkau berbagai kanal, produk, dan s istem pembayaran,” ujar Andre.
Capaian kinerja ini turut didorong oleh berbagai inisiatif strategis yang dijalankan perusahaan, untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat. Penggunaan fitur fixed price di aplikasi Bluebird selama semester I 2025 tercatat meningkat lebih dari 3x lipat secara tahunan, mencerminkan relevansi layanan yang semakin sesuai dengan preferensi pelanggan akan kejelasan tarif dan kenyamanan.
Di segmen shuttle, Cititrans terus berkembang melalui ekspansi rute ke sejumlah kota strategis seperti Jakarta – Tegal, Bandara Juanda – Solo, Bogor – Bandung, Magelang – Semarang, dan Magelang – Jogja. Bluebird juga memperluas perannya sebagai operator dalam kolaborasi bersama Transjakarta, mendukung upaya pemerintah Jakarta dalam menghadirkan sistem transportasi publik yang lebih terintegrasi dan andal.
Bluebird masih menjadi konstituen Indeks SRI – KEHATI selama dua tahun berturut – turut, menjadi bukti komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan. Indeks ini menilai perusahaan – perusahaan publik di sektor serupa yang menjalankan praktik bisnis berkelanjutan, dari aspek lingkungan, sosial, hingga tata kelola.
Kehadiran Bluebird dalam indeks ini menjadi bukti, bahwa prinsip keberlanjutan telah tertanam dalam strategi bisnis dan operasional perusahaan.
Sejumlah inisiatif di kuartal II turut memperkuat komitmen tersebut, seperti perluasan armada kendaraan listrik di berbagai layanan mobilitas, pengembangan program Beasiswa Bluebird Peduli yang sejak awal berdiri telah diberikan kepada lebih dari 66.000 anak-anak pengemudi dan karyawan, serta gerakan tanam pohon yang mendorong keterlibatan publik dalam pelestarian lingkungan.
“Kami ingin membangun perusahaan mobilitas yang tak hanya bisa diandalkan dari sisi layanan, tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Fokus kami tetap sama: bertumbuh secara berkelanjutan, sambil menciptakan nilai tambah bagi seluruh ekosistem kami,” tutup Andre.
Transformasi Berkelanjutan
Kinerja positif dari buah transformasi yang dilakukan Bluebird, hendaknya tidak membuat Bluebird berpuas diri begitu saja, karena tantangan ke depan tentu akan lebih menantang. Bisa jadi lebih memacu andrenalin, dari kompetisi yang sudah ada.
Bluebird harus terus bertransformasi berkelanjutan, alias menjadikan transformasi sebagai urat nadi perusahaan. Tidak ada kata beristirahat walau hanya sebentar, apalagi berhenti bertransformasi secara berkelanjutan.
Bluebird harus senantiasa menyerap informasi dari sumber mana saja, untuk kebutuhan kelanjutan transformasi. Jika nanti masanya datang transformasi dengan mobil atau motor terbang, Bluebird juga harus bersiap menyediakan armada terbang.
Meski sekarang masih kedengarannya mustahil, namun tak tertutup kemungkinan akan menjadi kenyataan satu saat nanti. Apalagi perusahaan-perusahaan besar seperti Boeing dan Porsche sedang bekerja sama untuk mengembangkan kendaraan eVTOL. Startup seperti Joby Aviation dan Lilium juga ikut aktif dalam mengembangkan taksi udara (cartrack.co.za).
Bahkan Dubai dan Dallas juga telah mengumumkan rencana untuk menguji coba taksi udara, dengan target awal untuk operasi komersial. Perusahaan otomotif Tiongkok, XPENG, juga telah menampilkan prototipe dan berencana untuk memulai produksi massal dalam beberapa tahun ke depan.
Perusahaan seperti Volatus Infrastructure juga sedang berkolaborasi dengan produsen kendaraan terbang, untuk mengembangkan fasilitas pendaratan dan pengisian daya.
Bluebird juga jangan ketinggalan untuk segera memasuki bisnis jet bisnis. Dikutip dari kompas.id, perusahaan produsen jet bisnis telah menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar potensial di Asia Pasifik.
Hal ini seiring dengan bertambahnya jumlah orang kaya raya yang sering disebut crazy rich di Tanah Air. Per akhir 2024, terdapat 57 jet bisnis di Indonesia.
Indonesia termasuk dalam pasar Asia Tenggara yang dianggap potensial. Indonesia menunjukkan peningkatan armada jet pribadi, menduduki peringkat kedua di Asia Tenggara pada tahun 2024, menunjukkan adanya pasar yang sedang berkembang.
Sekarang pilihan tentu berada di tangan Bluebird, apakah akan segera masuk ke lini bisnis jet pribadi atau tidak? Jika tidak tentu sangat disayangkan karena itu berarti pemain asing bisa menaguk keuntungan dari pasar yang sudah terbentuk.
Sambil bersiap menunggu izin taksi terbang, masuk ke lini bisnis sewa jet pribadi layak dipertimbangkan. Pasarnya ada, tentu rugi jika tidak diambil secepatnya. Semua demi tujuan menjadi tuan di negara sendiri, demi kejayaan nusa dan bangsa. (*)












