Jakarta – Erik ten Hag mengaku terkejut dengan keputusan Bayer Leverkusen yang memecat dirinya hanya setelah dua pertandingan. Pelatih asal Belanda itu menilai keputusan tersebut terburu-buru dan kurang menunjukkan kepercayaan dari manajemen klub.
Ten Hag baru ditunjuk sebagai pelatih Leverkusen pada bulan Mei lalu, menggantikan Xabi Alonso yang pindah ke Real Madrid. Kontraknya berdurasi dua tahun, namun berakhir dalam waktu kurang dari tiga bulan.
Leverkusen mengawali musim Bundesliga dengan kekalahan 2-1 dari TSG Hoffenheim. Hasil imbang 3-3 melawan Werder Bremen, yang bermain dengan 10 orang, memperburuk keadaan. Pihak klub kemudian mengumumkan pemutusan kontrak Ten Hag.
Dalam pernyataannya, Ten Hag menyesalkan keputusan klub tersebut. Ia merasa tidak diberi waktu yang cukup untuk membangun tim baru yang solid. Menurutnya, kepercayaan adalah hal penting yang tidak ia rasakan sepenuhnya dari manajemen.
Musim lalu, di bawah kepemimpinan Alonso, Leverkusen meraih prestasi gemilang dengan meraih gelar ganda domestik. Mereka menjuarai Bundesliga tanpa terkalahkan, mengangkat Piala Jerman, dan mencapai final Liga Europa.
Eksodus pemain kunci pada musim panas ini semakin memperberat tugas Ten Hag. Florian Wirtz, Jeremie Frimpong, Jonathan Tah, Granit Xhaka, dan Amine Adli memilih hengkang.
Ten Hag menegaskan bahwa ia memulai pekerjaannya dengan penuh keyakinan dan energi. Ia menyesalkan bahwa manajemen tidak memberikan kesempatan yang lebih panjang. Ia juga mengingatkan bahwa klub-klub yang pernah mempercayainya, seperti Ajax, selalu meraih kesuksesan dan trofi.











