Surabaya – Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, memberikan pandangan blak-blakan mengenai profil pemain Indonesia. Ia menyoroti postur tubuh pemain yang relatif kecil namun sangat terkesan dengan mental bertarung dan komitmen besar mereka. Pandangan ini relevan mengingat Tavares akan segera memimpin latihan perdana Persebaya pada awal Januari 2026, di tengah momentum positif tim yang baru saja naik ke peringkat lima klasemen Super League 2025/2026 setelah mengalahkan Madura United 1-0.
Pria yang sukses membawa PSM Makassar menjuarai liga itu menyebut sepak bola Indonesia tengah berada dalam fase desain ulang. Perubahan ini tidak lepas dari masifnya pemain naturalisasi dan keturunan, terutama yang berkarier di Belanda.
“Bapak Erick Thohir, yang dulu Presiden Inter Milan, adalah orang Indonesia dan sekarang menjadi bos sepak bola di Indonesia. Dia berinvestasi besar di tim nasional. Karena Indonesia bekas koloni Belanda, mereka bisa mendatangkan banyak pemain dari divisi satu atau dua Belanda dengan paspor Indonesia,” ujar Tavares.
Kehadiran para pemain berpaspor Belanda itu, menurut Tavares, secara perlahan menggeser posisi pemain lokal. Namun, ia menegaskan bahwa pemain Indonesia tetap memiliki ciri khas yang menonjol, yaitu kecepatan.
“Jika kita analisis profil pemain Indonesia, mereka sangat cepat. Biasanya paling efektif saat transisi menyerang maupun bertahan. Kecepatan adalah kekuatan utama mereka,” jelasnya.
Meski demikian, Tavares tak menutup mata pada persoalan mendasar. Ia memberikan peringatan keras jika pemain Indonesia terus bergantung pada fisik dan kecepatan semata. “Masalah terbesar ada pada pengambilan keputusan. Mereka belum terlalu kuat di area itu,” katanya.
Ia juga menyinggung soal postur tubuh. Bagi Tavares, tinggi badan masih menjadi isu krusial, terutama dalam duel dan penerapan taktik modern. “Di Indonesia, tinggi 175 sentimeter sudah dianggap tinggi. Padahal, kita tahu tinggi badan sangat penting dalam sepak bola, baik secara ofensif maupun defensif,” bebernya.
Menurut Tavares, keterbatasan postur ini menjadi celah besar dalam pertahanan tim nasional Indonesia, terutama saat berhadapan dengan tim-tim Asia lain yang unggul secara fisik. “Mereka sering kalah dalam duel dan gaya bermain seperti itu,” sambungnya.
Namun, kritik tersebut tak lantas menutup pujian. Tavares justru mengakui bahwa beberapa pemain Indonesia punya kualitas untuk bermain di liga profesional Portugal. Ia mencontohkan pengalamannya saat mengambil alih PSM Makassar pada 2022. Saat itu, PSM terpuruk di peringkat ke-14 dan ditinggal para pemain terbaiknya.
“Saya memaksimalkan pemain yang tersisa dan mendatangkan pemain dari divisi tiga serta tim junior. Beberapa dari mereka bahkan masuk tim nasional pada tahun berikutnya,” ungkap pelatih berusia 45 tahun itu.
Nama Yance Sayuri dan Yacob Sayuri menjadi contoh paling nyata. Tavares bahkan menyebut keduanya layak bersaing di klub sekelas SC Braga. “Saat itu saya melihat Braga. Pemain sayap bertahan mereka tidak lebih unggul dari saudara Sayuri. Mereka sangat cepat, mentalnya kuat, reaksinya cepat saat kehilangan bola. Satu menembak dengan kaki kiri, satu dengan kaki kanan,” paparnya.
Kekaguman Tavares memuncak saat membandingkan mental pemain Indonesia dengan karakter khas sepak bola Eropa. “Gaya bertarung mereka mengingatkan saya pada pemain Jerman, kolektif, pekerja keras, dan punya sikap bertanding yang kuat,” tutupnya.
Pandangan Bernardo Tavares tentang pemain Indonesia yang unggul dalam kecepatan tetapi terbatas secara postur menemukan relevansinya di skuad Persebaya Surabaya. Klub berjuluk Green Force ini memiliki sejumlah pemain lokal dengan karakter serupa: bertubuh relatif kecil, lincah, dan mengandalkan akselerasi dalam permainan.
Nama Alfan Suaib menjadi contoh paling jelas. Pemain muda ini dikenal aktif bergerak di ruang sempit, cepat saat membawa bola, dan agresif dalam transisi. Meski tidak menonjol secara postur, mobilitasnya membuat Alfan efektif dalam tempo permainan tinggi.
Di sektor sayap, Malik Risaldi juga merepresentasikan profil pemain yang mengandalkan kecepatan dan keberanian duel satu lawan satu. Pergerakan tanpa bola dan kemampuan menusuk dari sisi lapangan menjadi kekuatan utama, terutama saat Persebaya membutuhkan serangan langsung dan cepat. Pemain ini bisa menjadi solusi penting keran gol Persebaya yang belum juga mengalir deras.
Sementara itu, Mikael Tata di posisi bek kiri menawarkan kombinasi kecepatan dan stamina. Tata bukan tipe full-back dengan keunggulan duel udara, tetapi dikenal aktif naik-turun sisi lapangan dan kuat dalam menjaga intensitas permainan sepanjang laga.
Nama lain yang mencerminkan karakter tersebut adalah Ichsas Baihaqi. Sebagai gelandang muda, Ichsas lebih mengandalkan kelincahan, pergerakan cepat, dan distribusi bola sederhana. Posturnya tidak besar, namun aktivitasnya di lini tengah membuat sirkulasi permainan Persebaya tetap hidup.
Keempat pemain ini menunjukkan bahwa Persebaya memiliki stok pemain yang sesuai dengan gambaran umum Tavares tentang sepak bola Indonesia: cepat, dinamis, dan agresif, meski tidak unggul secara fisik. Tantangannya terletak pada bagaimana karakter tersebut dipoles agar tetap efektif dalam duel, organisasi bertahan, dan pengambilan keputusan.
Dengan materi seperti ini, Persebaya menjadi cerminan nyata dari isu yang disinggung Tavares sebelumnya, sekaligus peluang untuk membuktikan bahwa pemain bertubuh kecil tetap bisa kompetitif jika dikelola dengan pendekatan taktik dan fisik yang tepat.
Kehadiran Bernardo Tavares diharapkan menjadi titik balik penting bagi Persebaya Surabaya. Ia dijadwalkan memimpin latihan perdana pada awal Januari 2026 sebagai langkah awal membangun fondasi tim.
Ekspektasi tinggi mengiringi kedatangan Tavares ke Kota Pahlawan. Pengalaman membawa PSM Makassar menjuarai Super League 2022/2023 menjadi alasan utama kepercayaan besar publik Surabaya.
Tak hanya soal gelar, gaya kepelatihan Tavares juga menjadi sorotan. Ia dikenal sebagai pelatih yang realistis dan mampu memaksimalkan potensi pemain sesuai karakter tim.
Pesan penting Tavares kepada pemain dan suporter pernah ia sampaikan saat meraih gelar juara di Liga Indonesia. Pernyataan itu kini relevan sebagai gambaran filosofi yang kemungkinan diterapkan di Persebaya Surabaya.
“Kami perlu menyampaikan kepada para pemain dan penggemar bahwa musim ini akan sangat rumit,” beber Tavares.
Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif menghadapi tantangan kompetisi. “Dan kami harus memahami bahwa perlu mengadopsi gaya bermain yang sesuai dengan karakteristik pemain kami,” lanjutnya. Pendekatan tersebut dinilai menjadi kunci keberhasilan tim yang ia latih.
Tavares menjelaskan karakter pemain yang cepat namun tidak terlalu kuat secara teknis. Dari situ, ia memilih pendekatan taktis yang pragmatis dan efektif. “Oleh karena itu, yang kami lakukan adalah memberikan bola kepada lawan, lebih fokus pada transisi,” jelas Tavares. Strategi tersebut terbukti mampu membawa hasil maksimal di lapangan.
“Dan begitulah cara kami menang,” tegasnya singkat namun penuh makna. Filosofi ini diyakini akan menjadi dasar pendekatan Tavares bersama Persebaya Surabaya.
Selain aspek teknis, Tavares juga memiliki ketertarikan emosional terhadap sepak bola Indonesia. Ia mengaku terpesona dengan atmosfer dan semangat luar biasa dari para pendukung. “Saya selalu terpesona oleh Indonesia, baik oleh semangat para penggemarnya maupun jumlah orang yang tertarik,” ungkap Tavares. Menurutnya, dukungan suporter menjadi energi besar bagi tim.
Dengan segala latar belakang dan pesan yang ia bawa, Bernardo Tavares kini memikul ekspektasi besar. Harapan baru dimulai, dan publik Surabaya menunggu pembuktian nyata di lapangan. Persebaya Surabaya sendiri baru saja menunjukkan performa positif dengan naik ke peringkat 5 klasemen Super League 2025/2026 setelah menang tipis 1-0 atas Madura United di pekan ke-16. Kemenangan di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan pada Sabtu (3/1/2026) ini menjadi modal apik menyongsong era baru Tavares, dengan harapan membawa Green Force menembus papan atas.












