Batusangkar – Pemerintah Kabupaten Tanah Datar mengambil langkah tegas dengan menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies, menyusul peningkatan signifikan kasus gigitan hewan penular rabies (HPR), terutama yang disebabkan oleh anjing liar. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat.
Dinas Kesehatan setempat mencatat adanya 933 kasus gigitan dan satu kasus kematian akibat rabies. Roza Mardiah dari Dinas Kesehatan menjelaskan bahwa satu kasus kematian saja sudah cukup untuk menetapkan status KLB secara epidemiologis. “Hingga saat ini Dinas Kesehatan mencatat 933 kasus gigitan dan satu kematian akibat rabies. Secara epidemiologis, satu kematian saja sudah cukup untuk menetapkan status KLB,” ujarnya.
Pemerintah daerah berupaya menanggulangi penyebaran rabies dengan fokus pada pengendalian populasi anjing liar. Sri Mulyani, Kepala Dinas Pertanian, menekankan bahwa penanganan rabies merupakan prioritas karena penyakit ini termasuk dalam kategori zoonosis strategis. “Rabies adalah salah satu dari 18 penyakit hewan menular strategis nasional sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 121 Tahun 2023. Ini bukan persoalan sepele karena berdampak langsung pada keselamatan manusia,” ungkapnya dalam pertemuan di ruang kerja Sekretaris Daerah, kemarin.
Sebelumnya, upaya pengendalian dilakukan melalui penjaringan manual, namun dinilai kurang efektif karena keterbatasan sumber daya. Sri Mulyani menjelaskan, “Kami hanya memiliki tujuh dokter hewan. Penjaringan secara manual tidak bisa dilakukan massal dan membutuhkan waktu serta personel yang banyak.”
Pemerintah daerah kini mempertimbangkan opsi eliminasi anjing liar dengan metode yang sesuai dengan hukum, dengan tetap mengutamakan keselamatan. Regulasi terbaru memberikan dasar hukum untuk tindakan tersebut.
Roza Mardiah menambahkan bahwa sekitar 50 persen kasus gigitan berasal dari hewan liar, sementara sisanya berasal dari hewan peliharaan yang belum divaksinasi. Ia menyoroti perlunya peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya vaksinasi hewan peliharaan. “Ini menunjukkan bahwa edukasi masyarakat tentang pemeliharaan dan vaksinasi hewan masih sangat kurang. Banyak gigitan justru terjadi di lingkungan keluarga,” pungkasnya.










