Padang – Sumatera Barat mencatat angka prevalensi stroke lebih tinggi dari rata-rata nasional. Data terbaru menunjukkan 8,8 per 1.000 penduduk Sumbar mengalami stroke, sementara angka nasional 8,3 per 1.000 penduduk.

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, mengungkapkan kekhawatiran ini dalam Forum Ilmiah Neurologi Sumatera (FINEST) 2025 di Padang. Ia menyebut gangguan neurologis, termasuk stroke, menjadi penyebab utama beban penyakit global.

“Kondisi ini menjadikannya penyumbang utama beban penyakit secara global melebihi penyakit jantung dan pembuluh darah,” kata Mahyeldi.

Data GBD 2021 menunjukkan peningkatan 18% kecacatan, penyakit, dan kematian dini akibat gangguan neurologis sejak 1990. Gangguan neurologis juga menduduki peringkat pertama daftar penyakit rawat jalan di rumah sakit Indonesia.

Ketua Kolegium Neurologi Indonesia, Prof. Syahrul, menekankan urgensi penanganan stroke. Ia menyebutkan, setiap tiga detik, satu orang di dunia terkena stroke.

Setiap tahun, sekitar 12 juta orang mengalami stroke, dan setengah juta di antaranya meninggal dunia.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berupaya menekan angka gangguan neurologis melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang memprioritaskan deteksi dini stroke. Biaya kesehatan akibat stroke pada tahun 2023 mencapai Rp5,2 triliun.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.