Jakarta – Pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi bertajuk “Paket Stimulus Ekonomi 8+4+5” senilai Rp16,23 triliun. Program ini digulirkan seiring dengan rencana pemerintah menempatkan dana sebesar Rp200 triliun di lima bank BUMN.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan peluncuran paket stimulus ini bertujuan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% pada akhir tahun ini.
Paket stimulus ini meliputi berbagai insentif, mulai dari bantuan sosial pangan, program padat karya tunai, insentif pajak untuk sektor pariwisata dan UMKM, modernisasi sektor perikanan, hingga program replanting perkebunan rakyat.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai program ini sebagai salah satu stimulus paling ambisius dan komprehensif yang pernah digelontorkan pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, skema semacam ini jarang dilakukan di luar masa krisis, sehingga menegaskan orientasi pemerintahan yang lebih ekspansif.
Ekonom Panin Sekuritas, Felix Darmawan, memprediksi stimulus ini akan mendorong permintaan domestik karena daya beli masyarakat berpotensi meningkat. Ia menambahkan, jika eksekusinya tepat, efek pengganda (multiplier effect) dari stimulus ini bisa cukup kuat, terutama di sektor konsumsi dan ritel.
Felix menjelaskan pelaku usaha akan merasakan tambahan permintaan, meskipun tantangan tetap ada pada distribusi dan realisasi penyerapan anggaran.
Dengan prospek perbaikan permintaan domestik, peluang emiten untuk kembali ekspansif di semester II-2025 terbuka lebih lebar. Sektor dengan arus kas (cash flow) solid diperkirakan menjadi yang paling agresif, sementara emiten yang sebelumnya menahan belanja modal akan mulai membuka ruang ekspansi karena pasar dalam negeri kembali lebih atraktif.
Sektor yang akan cepat terdongkrak di antaranya adalah konsumsi, ritel, dan perbankan, karena langsung mendapat manfaat dari perputaran bantuan sosial dan insentif. Sektor infrastruktur juga berpotensi menerima dampak positif, terutama jika ada lowongan kerja yang tercipta terkait proyek pemerintah.
Sektor properti dan otomotif juga berpotensi mendapatkan sentimen tambahan dari meningkatnya daya beli masyarakat kelas menengah.
Namun, Liza mengingatkan sejumlah tantangan yang dapat menghambat implementasi stimulus ini. Kredit UMKM, misalnya, hanya tumbuh 2,1% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Juni 2025, dan melambat menjadi 1,6% pada Juli 2025. Rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) kredit UMKM juga naik 17 basis poin menjadi 4,41% dalam enam bulan terakhir.
Selain itu, pemerintah juga menghadapi keterbatasan fiskal karena APBN tetap defisit 2,78% dari PDB. Kondisi ini diperburuk oleh perlambatan ekonomi global, kenaikan harga komoditas, ketidakpastian arah suku bunga The Federal Reserve, dan situasi politik domestik yang kurang kondusif.
“Loan demand terutama dari konsumsi/UMKM masih lesu, dan LDR (loan to deposit ratio) perbankan sudah di level 88%,” imbuhnya.
Liza memperkirakan jika program ini berhasil, sektor yang berpotensi diuntungkan adalah bank-bank BUMN seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), dengan potensi stabilisasi biaya dana dan dukungan kredit investasi.
Program bantuan sosial dan padat karya tunai juga dapat menggairahkan sektor konsumer staples seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Emiten sektor pariwisata dan transportasi seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), dan MAPI juga berpotensi terangkat karena perpanjangan insentif PPh DTP.
Sektor konstruksi skala kecil hingga menengah seperti PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) juga dapat merasakan dampak positif dari program perbaikan permukiman dan padat karya. Sektor periklanan dan perkebunan seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT Sinarmas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) juga berpotensi diuntungkan dengan hadirnya program modernisasi kapal, tambak Pantura, dan program penanaman kembali perkebunan rakyat.
Sektor UMKM dan koperasi seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) juga dapat kembali bergairah dengan munculnya program koperasi desa Merah Putih dan akselerasi platform pemasaran digital.
Meski demikian, Liza menilai program ini lebih sebagai stimulus jangka pendek daripada perubahan menyeluruh. Dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi dan laba emiten akan bergantung pada perbaikan kualitas kredit dan pemulihan konsumsi rumah tangga.
Felix merekomendasikan saham-saham sektor ritel, saham perbankan seperti BBRI dan BMRI, dan saham properti seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dan PT Ciputra Tbk (CTRA).
“IHSG sendiri bisa menguji resistance 8.050–8.100 dengan support di 7.750–7.800 dalam jangka pendek,” imbuh Felix.












