Pariaman – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Piala Sakti Pariaman kembali menunjukkan komitmennya dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Kali ini, kegiatan dilaksanakan di Nagari Limau Puruik, Kecamatan V Koto Timur, Kabupaten Padang Pariaman, Sabtu-Minggu (12-13/9).

Kegiatan dengan tema Tanaman Obat keluarga (TOGA) ini, berlangsung berkat kerjasama antara Nagari Limau Puruik dengan STIKes Piala Sakti Pariaman. Pendanaan program bersumber dari hibah PKM Tahun Anggaran 2025 Direktorat Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset Dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, Dan Teknologi dalam Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pemberdayaan Masyarakat Pemula.

PKM juga melibatkan dosen, mahasiswa dari Program Studi DIII Kebidanan dan S1 Pendidikan Ners STIKes Piala Sakti Pariaman, Wali Nagari Limau Puruik beserta jajarannnya, Ibu Ketua Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) beserta jajarannnya, dan ibu-ibu rumah tangga di Nagari Limau Puruik.

“Kegiatan difokuskan pada peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat tentang TOGA, melalui penyuluhan dan praktik pengolahan lahan, pembudidayaan, serta pengolahan TOGA. Juga desimilasi teknologi perkebunan dan alat pengolahan TOGA sederhana pada masyarakat,”: kata Ketua Tim PKM, Nofri Zayani, S.Si., M.Si, Senin (15/9).

Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari kepedulian civitas akademika STIKes Piala Sakti Pariaman terhadap kondisi kesehatan masyarakat di daerah, terlebih pada daerah-daerah yang susah akses jangkauan layanan kesehatannya. Ketua pengusul memilih ide tanaman TOGA untuk dikembangkan di Nagari Limau Puruik, karena jarak rumah warga cukup jauh dari fasilitas kesehatan yaitu Puskesmas.

“Kebanyakan masyarakat lebih menggantungkan harapan sembuh pada obat berbahan kimia,” tambah Nofri Zayani yang juga didampingi anggota Atika Pradana Yuntarisa, S. ST., M.KM, Dosen DIII Kebidanan, Ns. Linda Andriani, S.Kep., M.Kep, Dosen S1 Pendidikan Ners, Dyta Khaira Zulkarnaen, S.Si., Tenaga Kependidikan, dan beberapa mahasiswa yaitu Mutia Noviola, Rani Novitri, Yosi Yolanda, Cici Winda Aprila, Tauvani Ayunda, Selvira Mesra, dan Dian Elmaysa.

Ia menambahkan, potensi tanah masyarakat yang hitam dan subur, serta pupuk organik seperti pupuk kendang dan kompos yang melimpah, dapat menghasilkan TOGA berkualitas. Mayoritas masyarakatnya juga suka beternak dan secara geografis banyak tumbuhan hijau, sehingga pembusukan daun-daunan juga melimpah.

“Penyuluhan yang diberikan tim pengusul terkait dengan tanaman TOGA, jenis tanaman TOGA, manfaat tanaman TOGA, kandungan tanaman TOGA, cara pembudidayaan tanaman TOGA, dan cara pengolahan tanaman TOGA. Penyuluh juga menyampaikan bahwa secara umum, tanaman kaya akan kandungan senyawa bioaktif yang baik untuk kesehatan seperti flavonoid, polifenol, tannin, terpenoid, steroid, glikosida, alkaloid, vitamin, dan mineral.

“Kandungan senyawa bioaktif ini telah diteliti dapat bermanfaat sebagai antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, antikanker, antitumor, antihipertensi, antidiabetes, antikolesterol, antiasam urat, dan bermanfaat memperbaiki metabolisme dan sistem tubuh,” tuturnya.

Selain itu, penyuluh juga memaparkan bahwa untuk pengolahan tanaman TOGA, dapat dilakukan secara sederhana baik digunakan langsung maupun untuk digunakan dalam jangka panjang. Pengolahan dalam jangka pendek dapat dilakukan melalui perebusan, perendaman, tumbukan, dan olesan. Sedangkan pengolahan jangka panjang dapat dilakukan dengan pembuatan simplisia (sedian kering) dan bubuk (dalam bentuk kapsul).

“Melalui kegiatan pengabdian ini, kami tidak hanya membawa ilmu yang kami dapat semasa kuliah dahulu dan dari kampus sekarang ke lapangan, tetapi juga belajar langsung dari dinamika permasalahan kesehatan masyarakat yang ternyata masih bisa diatasi dengan pengobatan yang ada disekitar kita,” ujarnya.

Ia berharap, setelah masyarakat mengenal dan mengetahui tumbuhan-tumbuhan yang berkhasiat obat, dapat ditanami disekitar rumah dengan sistem pemeliharaan yang mudah, serta pengolahan yang gampang. Masyarakat ke depannnya tidak selalu bergantung pada obat kimia yang dampaknya jika dikomsumsi dalam waktu lama dan sering, bisa berbahaya untuk tubuh. Ia juga berharap kegiatan ini dapat mempererat hubungan antara STIkes Piala Sakti Pariaman dengan Nagari Limau Puruik.

Sementara Wali Nagari Limau Puruik, Afriyan, menyambut antusias acara PKM ini. Menurutnya, kegiatan ini mampu menambah dan mengembangkan kemampuan ibu-ibu rumah tangga yang biasanya hanya berdiam di rumah, bisa menjadi lebih produktif untuk ke depannnya. Secara umum, masyarakat sangat terbantu, terutama dengan adanya penyuluhan terkait TOGA.

“Saya berharap agar kegiatan seperti ini berlanjut, dapat terus berjalan di masa mendatang seperti terbentuknya Nagari Limau Puruik sebagai Nagari Percontohan Pengembangan dan Pengoalahan Obat Tradisional khususnya TOGA sehingga bisa jadi UMKM masyarakat di nagari ini,” harapnya.

Sedangkan para ibu rumah tangga tampak sangat bersemangat mengikuti rangkaian kegiatan. Mereka jadi lebih paham sekarang, tentang jenis-jenis tanaman yang bermanfaat obat yang ternyata banyak berada disekitar mereka khususnya pada bahan-bahan dapur yang sering dipakai sehari-hari. (106)

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.