Jakarta – PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mengurangi kepemilikan sahamnya di PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan melepas 211,20 juta saham.
Penjualan saham ini dilakukan di tengah isu rencana IPO (Initial Public Offering) anak usaha MDKA.
SRTG menjual 211.103.896 saham MDKA pada 26 Agustus 2025 dengan harga Rp 1.925 per saham.
Sebelum transaksi, SRTG memiliki 4,97 juta saham MDKA atau setara dengan 20,34% kepemilikan.
Setelah penjualan, kepemilikan SRTG menjadi 4,76 juta saham atau 19,47% dari total saham Merdeka Copper Gold.
Meskipun mengurangi kepemilikan, SRTG bersama PT Provident Capital Indonesia tetap menjadi pengendali MDKA.
MDKA saat ini tengah menjadi sorotan karena anak usahanya yang mengelola Proyek Emas Pani di Gorontalo dikabarkan akan melakukan IPO dengan nilai yang cukup besar.
Investor Relations SRTG, Mellisa Holidi, menyatakan bahwa divestasi ini adalah bagian dari pengelolaan portofolio rutin perusahaan.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah Budiman, menilai langkah SRTG ini wajar sebagai perusahaan investasi.
“IPO anak usaha MDKA di saat momentum emas sedang positif bisa *unlock value* dan memberikan sentimen positif ke MDKA dan SRTG,” ujarnya.
Retail Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Indri Liftiany Travelin Yunus, melihat aksi SRTG ini sebagai penataan ulang portofolio dan tidak terkait dengan IPO anak usaha MDKA.
Indri menambahkan, IPO anak usaha MDKA, PT Pani Bersama Jaya (PAMA), akan menarik perhatian.
IPO PAMA direncanakan pada bulan September dengan harga saham antara Rp 850 hingga Rp 1.500.
PAMA mengelola tambang emas Pani di Gorontalo yang diproyeksikan menjadi salah satu tambang emas terbesar di Indonesia dan Asia Pasifik dengan cadangan lebih dari 7 juta ons emas. MDKA memiliki 62,73% saham PAMA pada akhir 2024.
Mellisa menegaskan, SRTG berkomitmen untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan meningkatkan nilai portofolio yang ada.
Perusahaan juga akan mencari peluang investasi baru di sektor-sektor dengan potensi pertumbuhan jangka panjang, seperti energi terbarukan, layanan kesehatan, infrastruktur digital, dan sektor konsumen.
Pada semester I 2025, SRTG mengalami kerugian neto atas investasi pada saham dan efek lainnya sebesar Rp 1,82 triliun.
Namun, SRTG berhasil membalikkan rugi bersih menjadi laba bersih sebesar Rp 102,01 miliar per Juni 2025.
Nilai Aset Bersih (NAV) SRTG tercatat sebesar Rp 53,99 triliun per semester I 2025.
Saratoga juga mencatatkan pendapatan dividen sebesar Rp 1,26 triliun pada periode enam bulan pertama tahun 2025.
Indry melihat SRTG memiliki potensi besar untuk meningkatkan kinerjanya di sisa tahun 2025.
Ia merekomendasikan beli untuk SRTG dengan entry Rp 2.000 per saham, target harga Rp 2.200 per saham, dan stop loss di Rp 1.940 per saham.











