Jakarta – Kepala Pemandu Bakat Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Simon Tahamata, menemukan banyak pemain muda berbakat di Indonesia. Namun, ia menekankan pentingnya disiplin dan mental bertanding yang kuat agar potensi tersebut bisa berkembang optimal. Simon menegaskan bahwa bakat saja tidak cukup tanpa karakter.

“Bakat itu penting, tapi tanpa karakter, pemain akan cepat hilang,” kata Simon, dikutip dari keterangan tertulis PSSI, Jumat, 7 November 2025.

Mantan bintang Ajax Amsterdam dan Timnas Belanda itu menilai, banyak pemain muda Indonesia memiliki kemampuan teknis yang baik. Mereka cepat, kreatif, dan punya sentuhan bola yang halus. Namun, ia melihat potensi alami itu belum cukup tanpa kedisiplinan dan keteguhan hati.

Dalam proses menyeleksi calon pemain, Simon memprioritaskan niat dan tekad mereka. “Saya akan bertanya, apakah kamu benar-benar ingin menjadi pesepak bola? Kalau sedikit saja ada keraguan, saya katakan: jangan!” ujarnya.

Sebaliknya, jika pemain datang dengan semangat dan keinginan kuat, Simon baru akan menilai kemampuan teknisnya. Ia menekankan pentingnya hati yang kuat dan rasa percaya diri.

Simon Tahamata mulai bertugas sebagai pemandu bakat PSSI sejak 26 Mei 2025. Ia menilai langkah awal program pencarian bakat ini berjalan cukup baik, dengan data pemain muda dari berbagai daerah. Namun, ia menegaskan perlu observasi dan penilaian langsung untuk memastikan kualitas para pemain.

Saat pertama kali tiba di Indonesia, Simon menyampaikan permintaan khusus kepada Ketua Umum PSSI Erick Thohir. “Saya bilang ke Pak Erick, jangan kasih saya laptop atau komputer, tapi kasih saya bola. Karena di bola, saya punya kehidupan,” tuturnya.

Pria kelahiran Vught, Belanda, 26 Mei 1956 ini telah menghabiskan 69 tahun hidupnya di dunia sepak bola. Ia berkomitmen melakukan observasi langsung serta membangun komunikasi dengan pelatih dan pemain di lapangan.

Simon juga mengakui tantangan besar dalam mencari bibit muda di Indonesia. Tantangan bukan hanya menemukan pemain, tetapi juga memastikan mereka mendapat pembinaan berkelanjutan. Ia melihat banyak anak Indonesia berbakat dan mau bekerja keras.

Di Garuda United U-16, Simon melihat sejumlah pemain menunjukkan semangat tinggi. “Itu bagus, tapi perlu lebih dari sekadar itu,” ujarnya. Menurutnya, pemain muda harus belajar berpikir cepat di lapangan.

“Ketika menerima bola di posisi tertentu, mereka harus tahu ke mana bola itu diarahkan. Hal-hal detail seperti itulah yang menjadi perhatian saya,” kata Simon.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.