Jakarta – Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta diduga terkait dengan ideologi ekstremisme global. Hal ini diungkapkan SETARA Institute, menyusul temuan polisi yang mengindikasikan terduga pelaku terinspirasi dari aksi teror penembakan masjid di berbagai negara.

Direktur Eksekutif Setara Institute, Halili Hasan, menyatakan temuan ini memperkuat dugaan bahwa tragedi tersebut bukan sekadar tindakan kriminal biasa, melainkan berpotensi mengarah pada terorisme.

Ledakan terjadi di Jalan Prihatin Nomor 87, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, sebanyak dua kali di lokasi berbeda: masjid di pekarangan sekolah dan area belakang sekolah.

Foto yang beredar menunjukkan senjata mainan dengan tulisan nama pelaku penembakan masjid di berbagai negara, yaitu Brenton Tarrant, Alexandre Bissonnette, dan Luca Traini. Ketiganya dikenal sebagai teroris penembakan masjid bermotif supremasi kulit putih dan neofasisme. Senjata mainan tersebut juga bertuliskan “Welcome to Hell” dan “For Agartha”.

Polisi telah mengidentifikasi seorang siswa sebagai terduga pelaku peledakan. Penggeledahan di rumahnya pada Sabtu malam (8/11/2025) menemukan barang bukti yang sesuai dengan temuan di lokasi kejadian.

Kecurigaan awal muncul saat siswa tersebut ditemukan terkapar bersimbah darah di dekat TKP, di samping senjata mainan.

Penampilan siswa tersebut juga mencolok, mengenakan sepatu boots, celana hitam, dan kaus tanpa lengan putih bertuliskan “Natural Selection”.

SETARA Institute mengkritik pelemahan program pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mereka menekankan pentingnya program ini sebagai prioritas nasional.

Sementara itu, Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri terus menyelidiki dugaan terorisme dalam ledakan di SMAN 72 Jakarta. Juru Bicara Densus 88, Ajun Komisaris Besar Mayndra Eka Wardhana, menyatakan pihaknya masih mendalami kemungkinan adanya unsur terorisme dalam insiden tersebut.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.