Sampah, Masalah dan Pengelolaannya
Oleh : Mufridawati, SP
Div. Ketahanan Pangan MEK dan Ketenaga kerjaan PWA Sumbar
Direktur Bank Sampah Panca Daya 15 Kota Padang
Gaya hidup modern membuat penggunaan plastik semakin meningkat. Permasalahan ini sudah lama menjadi isu global. Terlebih saat ini pemakai produk plastik semakin bertambah, namun tidak dibarengi dengan manajemen pengelolaan sampah plastik yang sesuai. Akibatnya kondisi ini memperburuk jumlah polusi sampah di dunia.
Berdasarkan laporan jurnal Nature yang ditulis tiga peneliti University of Leeds, Inggris yaitu Joshua W Cottom, Ed Cook, dan Costas A Velis menyebutkan jika penduduk dunia membuang 52,1 juta metrik ton sampah plastik ke lingkungan setiap tahun yang menyebar mulai dari laut dalam sampai gunung tertinggi di dunia.
Pada tahun 2024, diperkirakan dunia menghasilkan sekitar 400 juta ton sampah plastik, dengan sebagian besar berakhir di lingkungan alam seperti di selokan/bandar, sungai, danau, dan laut yang dapat mengancam ekosistem air. .Jumlah ini bisa meningkat tiga kali lipat dalam 25 tahun ke depan. Jika tidak dikelola.
Bagaimana dengan Indonesia? Negeriku tercinta. Negeriku menjadi kontributor sampah yang cukup besar, menjadi salah satu negara dengan jumlah sampah plastik terbesar di dunia. Indonesia menjadi penyumbang ketiga terbesar populasi plastik di dunia setelah India dan Nigeria (India 9.3 juta ton per tahun, Nigeria 3.6 juta ton per tahun, Indonesia 3.4 juta ton per tahun)
Pada tahun 2024, timbulan sampah di Indonesia diperkirakan mencapai 33,79 juta ton, yang didominasi oleh sampah sisa makanan (39,36%) dan sampah plastik (sekitar 19,65% di tahun 2024, naik dari 15,88% di 2019). Mayoritas sampah berasal dari rumah tangga (sekitar 50,8%), diikuti oleh sampah pasar dan kawasan. Meskipun ada upaya pengurangan dan pengelolaan sampah, sebagian besar sampah masih belum terkelola dengan baik, dengan hanya sekitar 59,7% dari sampah yang tercatat berstatus terkelola pada tahun 2024, sementara 40,3% lainnya tidak. Sampah pasar (16,67%), kawasan (11,31%), perniagaan (11,01%), perkantoran (5,15%), dan fasilitas publik (3,53%).
(Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dan sumber lainnya seperti laporan dari GoodStats). .
Permasalahan yang timbul dari sampah
Masalah utama dari sampah yang tidak dikelola adalah pencemaran lingkungan (tanah, air, udara), risiko kesehatan (penyakit menular dan kronis), kerusakan ekosistem dan keanekaragaman hayati, serta dampak ekonomi dan sosial seperti banjir dan longsor sampah, dan peningkatan emisi gas rumah kaca yang memperparah perubahan iklim.
Berikut adalah rincian masalah yang timbul dari sampah yang tidak dikelola:
Dampak Lingkungan
Pencemaran Tanah dan Air:
Sampah organik dan plastik dapat meresap ke dalam tanah dan mencemari
air tanah, sungai, dan lautan.
Pencemaran Udara:
Pembakaran sampah, terutama sampah anorganik, dapat menghasilkan asap
berbahaya dan merusak kualitas udara.
Bencana Alam:
Timbunan sampah dapat menyebabkan banjir dan longsor, serta
menghambat proses penyerapan air oleh tanah.
Kerusakan Ekosistem:
Sampah di perairan, terutama plastik, merusak habitat fisik, mengancam
kehidupan akuatik, dan dapat termakan oleh satwa liar.
Dampak Kesehatan
Penyakit Menular:
Tumpukan sampah menjadi sarang lalat, kecoa, tikus, dan serangga lain yang
membawa kuman penyakit seperti diare, disentri, dan malaria.
Penyakit Kronis:
Bahan kimia berbahaya dari sampah dapat meresap ke dalam tanah dan air,
kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui air dan makanan, yang
berpotensi menyebabkan kanker atau gangguan fungsi organ.
Gangguan Pernapasan:
Asap dari pembakaran sampah dan polusi udara dapat menyebabkan iritasi
tenggorokan, batuk, dan masalah pernapasan lainnya.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Penurunan Kualitas Hidup:
Sampah yang menumpuk dapat menimbulkan bau tidak sedap dan merusak estetika lingkungan, sehingga menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Kerugian Ekonomi:
Bencana seperti longsor sampah dapat menyebabkan kerusakan pada
infrastruktur dan lahan pertanian, yang menimbulkan kerugian ekonomi bagi
masyarakat.
Dampak Perubahan Iklim
Peningkatan Emisi Gas Rumah Kaca: Sampah organik yang tidak terkelola dengan baik dapat melepaskan gas metana, yang 20 kali lebih berbahaya daripada karbon dioksida, dan berkontribusi pada perubahan iklim.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Mengurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai:
Membawa tas belanja sendiri dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai adalah langkah sederhana untuk mencegah krisis sampah plastik.
Pilah dan Kelola Sampah dari Rumah:
Memilah sampah dan mengelolanya dari rumah membantu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan.
Sebagian besar sampah bermula dari rumah tangga. Hampir seluruh aktifitas di rumah menghasilkan sampah baik organik dan non organik. Pengelolaan sampah seyogyanya dimulai dari rumah tangga. Ketika kita belanja, setiba dirumah pasti banyak kantong plastik dari bungkus belanjaan yang kita bawa pulang. Ibu, sebagai pilar utama aktifitas rumah tangga, bertindak sebagai pelaku memilah sampah secara langsung. Sampah non organik seperti plastik, kertas dan lain-lain dikumpul masing-masing dalam wadah yang kita sediakan seperti karung.
Sedangkan sampah organik seperti kulit bawang, batang sayuran yang tidak terpakai, sisa nasi dan makanan, dan lain-lainnya bisa kita masukkan ke dalam lubang yang dibuat khusus untuk sampak dapur (biopori) yang bisa menghasilkan kompos setelah 3 bulan atau dijadikan sebagai makanan maggot (budidaya maggot) sehingga apapun sampah dari rumah tidak mencemari lingkungan. Jika semua rumah tangga melakukan pemilahan sampah dari rumah seperti ini, insya Allah rumah dan lingkungan kita bersih. Tidak akan ada tumpukan sampah yang banyak kita lihat dipinggir Sungai, ditanah -tanah kosong dan ditempat-tempat lainnya yang mengganggu keindahan pandangan
Transisi ke Ekonomi Sirkular:
Mendorong model ekonomi sirkular, di mana sampah dilihat sebagai sumber daya berharga dan bukan hanya limbah, adalah solusi jangka panjang yang penting. Melakukan pengolahan sampah menjadi barang/produk bernilai ekonomi seperti tas cantik, tas belanja, tempat tissue, aroma terapi dari minyak jelantah, membuat ecoenzyme, kompos dan lain-lain (prinsip pengelolaan sampah 3 R : Reduce, Reuse dan Recycle).
Sesuai dengan Tema Peringatan Hari Bebas Sampah Internasional:
2024, “Menuju Masa Depan Sirkular” yang menekankan pentingnya transisi ke model ekonomi sirkular.
Berbagai cara pengolahan sampah yang sudah dilakukan baru sekitar 59,7% dari timbulan sampah yang tercatat berstatus terkelola pada tahun 2024, dengan 40,3% lainnya tidak terkelola. Sampah terkelola adalah sampah yang masuk ke fasilitas seperti bank sampah, TPST (tempat pembuangan sampah terpadu), TPA (temoat pembuangan akhir), pusat daur ulang, incinerator (alat yang digunakan untuk membakar sampah pada suhu tinggi), atau diolah menjadi kompos.
Tantangan ke depan : Bagaimana peran Aisyiyah sebagai salah satu organisasi perempuan terbesar di Indonesia terutama di Sumatera Barat dapat menginisiasi masalah ini, memberikan kontribusi dan ikut berperan bersama pemerintah mengurai dan menyelesaikan masalah sampah, dimulai dari rumah dan lingkungan sendiri.
Ayo ibu2 Aisyiyah kita yang berada di berbagai kabupaten dan kota di Sumbar, ibu2 dengan profesi apa pun dimana saja berada, kita buat Gerakan peduli sampah salah satunya dengan MEMBENTUK BANK SAMPAH.
Fathun minallaah wa fathun qariib
Padang, 11 September 2025












