Jakarta – Pergerakan saham emiten properti terpantau tidak sejalan dengan kinerja fundamental perusahaan. Bahkan, sejumlah emiten justru mencatatkan lonjakan saham yang signifikan sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Sektor Properti (IDX Properties & Real Estate) telah meningkat 51,75% sejak awal tahun atau *year to date* (YTD).

Beberapa emiten properti bahkan mengalami kenaikan saham yang sangat tinggi. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) memimpin dengan kenaikan 1.364,78% YTD, diikuti PT Pakuan Tbk (UANG) yang melesat 634,69% YTD.

Selanjutnya, PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) mencatatkan kenaikan 525% YTD, PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) naik 345,54% YTD, dan PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) naik 314,9% YTD.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai kenaikan indeks sektor properti ini didorong oleh anomali yang terkonsentrasi pada sekelompok kecil emiten. Hal ini dipicu oleh sentimen spekulatif, pengaruh konglomerasi, dan agenda aksi korporasi tertentu.

Menurut Abida, kenaikan harga saham yang masif tersebut tidak sejalan dengan perbaikan kinerja fundamental sektor secara luas. Valuasi emiten pendorong indeks berada di level yang tidak rasional jika dibandingkan rata-rata sektor properti.

“Valuasi ekstrem ini membuktikan bahwa harga didorong murni oleh ekspektasi non-fundamental, yaitu sentimen aksi korporasi,” ujarnya.

Sementara itu, emiten properti berkapitalisasi pasar besar masih menunjukkan pencapaian *marketing sales* yang belum optimal.

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menambahkan bahwa reli saham sektor properti tahun ini lebih banyak digerakkan oleh momentum proyek, katalis spesifik, dan spekulasi. Pemulihan fundamental sektor properti dinilai belum merata.

Meskipun Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga beberapa kali di tahun 2025, dampaknya terhadap penjualan properti belum signifikan. Bank belum agresif menurunkan suku bunga KPR, pembeli masih selektif, dan beberapa segmen masih mengalami *oversupply*.

Sukarno menilai, struktur pasar sektor properti yang tipis likuiditas juga membuat harga mudah bergerak ekstrem.

Untuk tahun 2026, potensi pemulihan emiten properti diperkirakan lebih nyata seiring dengan stabilnya inflasi dan potensi pelonggaran suku bunga.

Dalam kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, emiten dengan pendapatan berulang (*recurring income*) yang kuat cenderung lebih defensif dan tahan terhadap tekanan.

Sukarno merekomendasikan *accumulative buy* untuk saham emiten properti dengan *price to book value* (PBV) di bawah 1x, yaitu BSDE, CTRA, SMRA, dan BKSL.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.