Jakarta – Saham lapis kedua atau *second liner* menunjukkan performa yang menjanjikan menjelang akhir tahun. Meskipun menarik, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dalam berinvestasi.
Kinerja IDX SMC Composite, yang berisi saham lapis kedua, tumbuh 6,83% dalam sebulan terakhir, mencapai level 436,43 hingga Jumat (21/11/2025). Capaian ini melampaui indeks LQ45 yang hanya tumbuh 3,15% dan IHSG yang tumbuh 2,14%.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengungkapkan beberapa faktor yang memicu agresivitas saham lapis kedua. Faktor-faktor tersebut antara lain likuiditas yang mengalir ke sektor tematik, euforia aksi korporasi emiten, dan rotasi sementara dari saham berkapitalisasi besar setelah *rebalancing* MSCI.
“Hal ini membuat investor mencari peluang alpha tambahan di luar LQ45, sehingga minat terhadap saham *mid-small caps* meningkat,” ujarnya.
Namun, kenaikan harga saham lapis kedua tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental emiten. Beberapa sektor dengan kinerja keuangan solid meliputi komoditas (emas dan nikel), agribisnis (sawit), dan emiten logistik yang efisien. Beberapa emiten konsumer non-siklikal juga mencatat margin stabil.
Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, memprediksi saham lapis kedua akan tetap unggul karena reli positif efek Santa Claus, arus dana asing yang tidak merata ke saham *big caps*, dan maraknya aksi korporasi.
Untuk tahun 2026, ada potensi rotasi parsial ke saham *big caps* jika sektor perbankan dan telekomunikasi pulih. Meski demikian, saham *mid-small caps* tetap menarik untuk sektor tertentu seperti emas, nikel, pelayaran, industrial, *data center*, dan kendaraan listrik.
Reza memprediksi tidak semua saham lapis kedua akan terus naik. Kenaikan volatilitas global dan penurunan suku bunga acuan dapat mendorong investor untuk kembali ke saham *blue chips* yang lebih defensif. Selain itu, beberapa saham lapis kedua sudah naik signifikan sehingga valuasinya kurang atraktif.
“Hal ini akan membuka ruang terjadinya rotasi dana ke *big caps*, baik karena faktor *risk management* maupun karena beberapa saham berkapitalisasi besar kini justru menjadi *value play* secara fundamental,” imbuh Reza.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Edvisor Provina Visindo, Praska Putrantyo, menyatakan bahwa penguatan saham lapis kedua tetap terbuka di tahun depan.
Pelaku pasar kemungkinan akan lebih selektif mengincar sektor seperti energi, bahan baku, dan konsumer, dengan memantau faktor makroekonomi.
Praska menyarankan investor untuk selalu memantau likuiditas transaksi, valuasi, dan kinerja fundamental secara berkala. “Aksi korporasi dan juga arus dana asing pada saham lapis kedua juga perlu dipantau,” tambahnya.
Dari sekian banyak saham lapis kedua, Praska merekomendasikan *buy on weakness* saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dengan target harga masing-masing Rp 1.100, Rp 1.200, dan Rp 1.200 per saham.
Saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga menarik dengan target harga Rp 1.900–Rp 2.000 per saham.
Reza menyarankan investor untuk menghindari pembelian saham lapis kedua saat euforia tinggi dan tetap disiplin menggunakan metode *cut loss* atau *trailing stop*, karena volatilitas saham-saham IDX SMC Composite cenderung lebih besar dari saham LQ45.
Dia merekomendasikan saham-saham seperti PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) dengan target Rp 270–Rp 290 per saham, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp 400–Rp 480 per saham, dan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) Rp 160–Rp 180 per saham.












