Padang – Pasca-banjir bandang yang melanda Nagari Guguak Malalo, Tanah Datar, Sumatera Barat, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) fokus pada pemulihan infrastruktur irigasi yang rusak, selain percepatan normalisasi Batang Malalo. Bencana tersebut menyebabkan terputusnya jaringan irigasi di enam daerah irigasi, mempengaruhi sekitar 100 hektare lahan pertanian.
Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, berupaya melakukan penanganan darurat dan pemulihan. Kepala BWS Sumatera V, Naryo Widodo, menyatakan bahwa normalisasi Sungai Batang Malalo sepanjang 1,5 kilometer menjadi prioritas utama. “Salah satu fokus utama adalah normalisasi Sungai Batang Malalo sekitar 1,5 Km guna mengembalikan kapasitas alur sungai dan mengurangi potensi banjir susulan,” ujarnya.
Selain berdampak pada irigasi, banjir bandang juga merusak Sabo Dam yang dibangun di aliran sungai. Meskipun mengalami kerusakan, infrastruktur tersebut terbukti efektif meredam dampak kerusakan yang lebih besar. Sabo Dam berhasil menahan laju sedimen dan batu, meminimalisir dampak kerusakan parah pada permukiman warga.
Sekretaris Nagari Guguak Malalo, Rizal Ramli, menekankan pentingnya peran Sabo Dam bagi keselamatan warga. “Menurut kami Sabo Dam ini sangat penting karena beberapa kali runtuhan dari arah aliran sungai, Alhamdulillah karena ada Sabo Dam ini material banyak tertahan di atas, sehingga banyak rumah yang terselamatkan,” ungkapnya.
Rizal menambahkan bahwa keberadaan Sabo Dam memberikan waktu bagi warga untuk meningkatkan kewaspadaan. “Bencana ini terasa lebih besar dari bencana tahun 2012, tapi karena adanya Sabo Dam jadi terasa manfaatnya bagi kami. Dengan adanya Sabo Dam ini kami bisa memantau keadaan air dan mengimbau warga untuk mengungsi,” imbuhnya.
Menteri PU, Dody Hanggodo, dalam keterangan tertulisnya, menyatakan kesiapsiagaan infrastruktur dan sumber daya Kementerian PU dalam mendukung penanganan bencana. Pemanfaatan Sabo Dam merupakan bagian dari strategi Kementerian PU dalam memperkuat ketahanan air dan pangan.
Sabo Dam dirancang untuk mengalirkan air ke lahan pertanian di hilir secara teratur dan efisien. Selain pengendali sedimen, Sabo Dam juga mendukung sistem irigasi pertanian.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Kabupaten Tanah Datar, John Kenedy, mengapresiasi dukungan Kementerian PU dan berharap perbaikan Sabo Dam segera dilakukan. “Kondisi sekarang Sabo Dam ada kerusakan dengan ketinggian sedimentasi lebih dari 20 meter. Tanggulnya rusak sepanjang kurang lebih 350 meter,” jelasnya.
Sabo Dam dirancang khusus untuk menampung aliran sedimen atau debris, menahan pasir dan batu, sementara air tetap mengalir. Konstruksinya bertingkat, dengan ukuran terbesar di bagian atas untuk menahan batu besar, dan yang lebih kecil di bagian bawah untuk menahan pasir.
Masyarakat berharap pemerintah terus melakukan penanganan lanjutan dan mempercepat normalisasi Sungai Batang Malalo, mengingat kekhawatiran akan banjir bandang susulan.












