Jakarta – Asesmen Nasional (AN) terbaru mengungkap kemampuan literasi dan numerasi siswa di Indonesia masih rendah. Temuan ini menjadi peringatan serius bagi kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa depan.

Hasil AN menunjukkan skor numerasi siswa cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan literasi juga berjalan lambat.

Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi pendidikan Islam, terutama madrasah dan pesantren. Hasil AN menjadi indikator awal yang perlu diwaspadai.

Penurunan numerasi mengindikasikan adanya kelemahan struktural dalam sistem pendidikan. Pembelajaran masih berpusat pada guru dan hafalan, sehingga siswa kurang memiliki ruang untuk bernalar.

Mata pelajaran umum di pendidikan Islam dinilai kurang mendapat penguatan yang memadai. Padahal, kitab turats kaya akan logika dan penalaran yang membutuhkan kemampuan literasi dan numerasi yang kuat.

Rendahnya literasi dan numerasi berdampak pada hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) dan Imtihan Wathani di pesantren.

Stagnasi hasil AN mempersulit upaya peningkatan skor Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA).

Pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Madrasah dan pesantren perlu mengambil langkah konkret untuk meningkatkan literasi dan numerasi siswa.

Peningkatan kompetensi guru menjadi kunci. Pelatihan aplikatif dan pendampingan berkelanjutan perlu dilakukan. Ekosistem evaluasi pendidikan Islam juga perlu diselaraskan.

Pesantren perlu menjadikan penguatan budaya literasi sebagai agenda utama. Tradisi membaca kitab kuning perlu diperluas menjadi budaya literasi modern.

Pembenahan literasi dan numerasi menjadi keharusan. Pendidikan Islam memiliki kesempatan besar untuk menjadi penggerak perubahan.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.