Jakarta – Proyeksi suram terhadap ekonomi Indonesia beberapa tahun mendatang diungkapkan seorang pakar, menyoroti potensi pelemahan nilai tukar Rupiah dan ancaman resesi. Kekhawatiran ini muncul di tengah dinamika geopolitik global dan keterbatasan anggaran negara.

Ferry Latuhihin menyampaikan prediksinya mengenai nilai tukar Rupiah yang berpotensi menyentuh angka Rp22.000 per dolar AS pada kuartal III-2026. “Outlook ke depan, kembali lagi saya ramalkan. Dolar kemungkinan ke 22 ribu di bulan Juli. 17 ribu sudah terjadi ya. Dan di Q3, 22 ribu ramalan saya. Lantas di Q3, bukan tidak mungkin pertumbuhan kita last di 3%, bahkan bisa resesi di Q4,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, proyeksi ini didasarkan pada analisis data dan tren ekonomi terkini, bukan sekadar spekulasi belaka. Ia juga menyoroti tekanan besar yang dihadapi prospek ekonomi Indonesia.

Latuhihin menggambarkan outlook ekonomi nasional saat ini dengan nada pesimis, terutama menyoroti kebijakan fiskal pemerintah yang terbebani oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi ini, menurutnya, menuntut pemerintah untuk lebih selektif dalam menentukan prioritas anggaran.

Lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s, S&P, dan Fitch Ratings, disebut memberikan sinyal peringatan yang lebih dalam. “Moody’s, S&P, Fitch Ratings sekarang memberikan warning yang lebih dalam lagi, bukan tidak mungkin kita menjadi non-investment grade. Ini baru outlooknya saja yang di-downgrade, belum ratingnya. Nah, kalau itu terjadi, there will be a huge capital flight,” jelasnya.

Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dinilai cukup signifikan. Latuhihin berpendapat bahwa tanpa intervensi kuat dari otoritas moneter, pelemahan Rupiah berpotensi semakin dalam.

“Sekarang saja, kalau nggak BI all out melakukan intervensi, sudah tembus tujuh, kemarin diperdagangkan Rp17.300, di bank-bank, di luar forex market, ya, detail market namanya,” ungkapnya.

Latuhihin menambahkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dari kondisi domestik. Ia mempertanyakan mengapa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% yang dilaporkan sebelumnya justru diikuti dengan penurunan outlook oleh lembaga pemeringkat internasional.

Ia juga menyoroti bahwa pelemahan Rupiah terjadi di tengah penguatan mata uang beberapa negara lain terhadap dolar AS, yang mengindikasikan adanya tekanan pada fundamental ekonomi domestik.

Dinamika geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Iran, juga dinilai dapat memperburuk tekanan terhadap perekonomian Indonesia dan menambah beban terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Latuhihin menekankan bahwa kebijakan ekonomi pada dasarnya merupakan soal pilihan di tengah keterbatasan anggaran. Pemerintah harus menentukan prioritas yang paling optimal dalam penggunaan anggaran negara.

“Yang namanya ekonomi, it is a matter of choice. Kita punya budget constraint, nggak bisa enak-enak membeli ini dan membeli itu, membiayai ini dan membiayai itu, semua ada constraint-nya. Dalam budget constraint itu kita harus memilih yang optimal,” pungkasnya.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.