Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat signifikan pada penutupan perdagangan Jumat, 3 Oktober 2025, menembus level Rp 16.563 per dolar Amerika Serikat. Rupiah tercatat naik 35 poin atau 0,21 persen dari posisi sebelumnya Rp 16.598 per dolar AS.

Penguatan ini dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga acuan (Fed Funds Rate/FFR) yang lebih agresif oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed), terutama akibat pengaruh dari penutupan pemerintahan (government shutdown) di Negeri Paman Sam.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan tipis pada hari yang sama, bergerak ke level Rp 16.611 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.612 per dolar AS.

Ekonom Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa sentimen global menjadi pendorong utama penguatan rupiah. “Saya rasa lebih dari faktor global karena peningkatan ekspektasi pemangkasan FFR yang lebih agresif dari The Fed, dengan pengaruh dari government shutdown (Amerika Serikat),” ujarnya.

Mengutip laporan, lembaga pemeringkat kredit internasional S&P Global memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) sebelum akhir tahun ini. Pelonggaran suku bunga tersebut diperkirakan akan berlanjut pada tahun 2026 dengan pemotongan sebesar 50 bps.

Potensi pemotongan FFR semakin meningkat seiring dengan belum tercapainya kesepakatan anggaran pemerintah AS untuk tahun mendatang, yang menyebabkan terjadinya penutupan pemerintahan. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang tinggi di pasar, sehingga menyulitkan pasar untuk melihat perkembangan data ekonomi AS terkini.

Menurut Rully Arya, penguatan rupiah yang terjadi selama lima hari terakhir secara spesifik disebabkan oleh penutupan pemerintah AS. Hal ini secara langsung meningkatkan kemungkinan pemangkasan suku bunga FFR pada bulan Oktober dan Desember 2025.

Dari sentimen domestik, Rully menambahkan, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menunjukkan sikap yang pro-growth. Sikap ini diyakini akan memberikan dampak positif terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.