Jakarta – Negosiasi antara Indonesia dan Cina terkait restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh sedang berlangsung. Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani, mengungkapkan hal ini kepada wartawan usai menghadiri Investor Daily Summit 2025 di Jakarta Convention Center pada Rabu, 8 Oktober 2025.

Menurut Rosan Roeslani, negosiasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan reformasi yang komprehensif, bukan sekadar restrukturisasi. “Jadi kami mau melakukan reformasi secara komprehensif, secara keseluruhan. Jadi begitu restrukturisasi, ke depannya tidak akan terjadi lagi hal-hal seperti ini,” jelas Rosan.

Rosan Roeslani enggan menjelaskan lebih lanjut skema reformasi komprehensif yang dimaksud karena negosiasi saat ini masih berjalan. Namun, dia memastikan bahwa negosiasi dengan Cina ditargetkan rampung sesegera mungkin. Restrukturisasi utang KCIC merupakan salah satu program Danantara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan 2025.

Sebelumnya, Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, dalam rapat kerja bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat, menyampaikan bahwa Danantara tengah merumuskan sejumlah alternatif penyelesaian utang PT KCIC. Dony menegaskan, langkah penyelesaian yang akan diambil harus komprehensif dan tidak mengganggu kinerja PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang menjadi pemimpin konsorsium Indonesia di KCIC. “Kami sedang mencari solusi jangka panjang dari utang-utang konsorsium ini yang cukup besar,” ujar Dony di Kompleks Parlemen, Jakarta, 23 Juli 2025.

Proyek kereta cepat, yang diluncurkan secara komersial pada Oktober 2023, dikerjakan dengan skema patungan 40 persen modal dari Cina dan 60 persen dari Indonesia. Pada awalnya, Cina menawarkan dana US$ 5,5 miliar atau sekitar Rp 89,6 triliun untuk proyek tersebut. Namun, biaya proyek ini membengkak menjadi US$ 6,071 miliar atau Rp 98,9 triliun pada tahun 2018.

Ketika Whoosh beroperasi, Cina dan Indonesia menyepakati pembengkakan biaya proyek tambahan sebesar US$ 1,2 miliar. Dengan demikian, total biaya proyek bertambah menjadi US$ 7,27 miliar atau setara dengan Rp 118,4 triliun. Pemerintah Indonesia dan Cina menyepakati bahwa 75 persen dari pembengkakan biaya tersebut akan ditanggung melalui pinjaman baru dari China Development Bank, dan 25 persen sisanya dari ekuitas KCIC.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.