Madrid – Penyerang Real Madrid, Rodrygo, baru-baru ini berbagi kisah panjang perjalanan kariernya di Santiago Bernabéu, mengungkapkan rasa terima kasih mendalam kepada pelatih Carlo Ancelotti, perjuangan melewati masa-masa sulit, hingga tekadnya untuk terus memenangkan trofi bersama Los Blancos. Ia membeberkan kisahnya dalam sebuah wawancara.
Pemain internasional Brasil itu memulai ceritanya dengan mengenang sosok Ancelotti, pelatih yang dinilainya memberikan banyak pelajaran berharga. Rodrygo menuturkan bahwa sang pelatih selalu menunjukkan rasa hormat tinggi terhadap Real Madrid, bahkan ketika ada spekulasi ia akan meninggalkan klub. Sebuah kalimat Ancelotti melekat kuat di benaknya: “Brasil adalah Madrid-nya tim nasional.”
“Ketika akhirnya CBF dan Madrid mencapai kesepakatan, dia sangat antusias dengan tantangan itu,” kata Rodrygo. “Kami semua ikut senang untuknya.”
Sebelum menembus tim utama, Rodrygo sempat mencicipi atmosfer Valdebebas bersama Real Madrid Castilla. Ia masih ingat betul pengalaman pertamanya di sana, di mana ia mencetak gol namun langsung diusir karena cara perayaannya.
Debutnya bersama tim utama juga menjadi momen tak terlupakan. “Zidane sendiri yang menelepon saya untuk memberi tahu bahwa saya akan bermain di Bernabéu. Saya benar-benar tidak menyangka akan secepat itu,” jelas Rodrygo. Ia menggambarkan perasaan gugup dan bahagianya saat itu.
“Saya memimpikannya seumur hidup. Casemiro memberi saya umpan, saya kontrol bola, lalu menembaknya masuk ke gawang. Rasanya luar biasa, debut yang sempurna,” kenangnya. Rodrygo juga menyebut Zidane sebagai sosok yang sederhana namun karismatik, yang membuatnya merasa terhormat.
Meski awal kariernya berjalan mulus, Rodrygo mengakui musim lalu menjadi masa yang berat. Di paruh kedua musim, performanya menurun drastis akibat masalah kebugaran dan kondisi mental yang terganggu. “Secara pribadi, itu masa yang sangat berat. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang saya alami saat itu,” katanya jujur.
Ancelotti hadir sebagai sosok penting dalam pemulihannya. “Carletto bilang kepada saya, ‘Tetaplah tenang, kamu belum fit untuk bermain sekarang.’ Saya waktu itu ingin tetap bermain, tapi dia tahu bahwa ia harus memulihkan orangnya dulu, baru pemainnya,” ungkap Rodrygo.
Ia sangat berterima kasih kepada Ancelotti, anaknya Davide, dan seluruh staf pelatih yang membantunya bangkit, tidak hanya sebagai pemain tetapi juga sebagai pribadi. Keluarga juga berperan besar dalam pemulihannya.
Beberapa waktu lalu, nama Rodrygo sempat dikaitkan dengan klub besar seperti Manchester City dan Liverpool. Namun, pemain 24 tahun itu menegaskan tak pernah berniat meninggalkan Real Madrid. “Musim panas kemarin banyak rumor, tapi saya selalu bilang pada klub bahwa saya ingin bertahan dan terus memenangkan trofi di sini,” ucapnya, menambahkan bahwa ia ingin meraih lebih banyak gelar Liga Champions setelah dua yang sudah didapatnya.
Menurutnya, pihak klub selalu menunjukkan kepercayaan penuh kepadanya. “Setiap kali saya menghadapi masalah, klub selalu ada di belakang saya. Karena itu, rumor soal kepindahan tidak pernah mengganggu saya. Fokus saya sepenuhnya hanya pada Real Madrid.”
Rodrygo menekankan bahwa hubungannya dengan klub dibangun atas dasar saling menghormati. “Saya selalu bilang, selama Madrid masih menginginkan saya, saya akan tetap di sini. Kalau suatu hari mereka berkata, ‘Rodry, mungkin kamu perlu mencari klub lain,’ saya akan menerimanya. Tapi sampai sekarang, mereka belum pernah mengatakan itu.”












