Medan – Ratusan relawan dari berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Sumatera Utara menunjukkan kepedulian terhadap korban banjir di Aceh dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan. Pelepasan konvoi truk yang mengangkut kebutuhan pokok dilakukan pada Hari Bela Negara, 19 Desember, di kawasan Bandara Kuala Namu.

Semangat kemanusiaan terpancar dari para sopir truk yang terlibat dalam misi ini. Sitepu, salah seorang sopir truk yang membawa pakaian, memperkirakan perjalanan ke Gayo akan memakan waktu sekitar 11 jam dengan empat kali pengisian bahan bakar. “Kami akan ke Gayo Bang 11 jam, empat kali isi BBM,” ungkapnya di kawasan Bandara Kuala Namu.

Adrian, sopir truk berusia 19 tahun, menegaskan tujuan utama mereka adalah membantu sesama. “Untuk sesama Bang, kita antarkan bantuan ke Aceh,” ujarnya. Fery, sopir truk lainnya, turut menyampaikan kebahagiaannya dapat berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan ini.

Bantuan yang dibawa meliputi berbagai kebutuhan, seperti perlengkapan pribadi, perlengkapan kamar mandi, perlengkapan dapur, perlengkapan kamar tidur seperti selimut, sandal, sepatu, obat-obatan, air bersih, dan bahan bakar minyak.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Sadikin telah bertolak ke Aceh untuk menyalurkan bantuan obat-obatan. Kepala BP BUMN yang juga COO Danantara, Dony Oskaria, secara resmi melepas keberangkatan konvoi truk tersebut.

Para relawan muda yang bekerja di BUMN tersebut berkumpul di Medan sebelum bergerak menuju Aceh. Salah seorang relawan menyatakan, “Kami berbakti pada saudara kita yang terkena musibah, Pak.”

Momentum ini bertepatan dengan Hari Bela Negara, yang memiliki makna tersendiri di luar Jawa. Tanggal tersebut merujuk pada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berpusat di Sumatera Barat, dengan radio-radionya yang beroperasi di Sumatera Utara dan Aceh. Radio tersebut menyiarkan pidato Sjafruddin Prawiranegara yang menegaskan eksistensi Indonesia, meskipun Soekarno dan Hatta ditawan. Siaran radio ini terdengar hingga India dan Timur Tengah, yang mendorong Perdana Menteri India Nehru untuk mengancam Belanda agar tidak mengganggu Indonesia.

Di sela-sela misi kemanusiaan, sejumlah sopir truk menyampaikan aspirasi terkait akses permodalan. Mereka berharap, “Bang… bang kami- kami ini bisa minjam KUR atau dapat CSR dari bank-bank, bilang dong sama bapak-bapak itu.”

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.