Anfield – Kekalahan tipis 1-0 Real Madrid dari Liverpool di Liga Champions menjadi sorotan tajam terhadap strategi Xabi Alonso, khususnya dalam menghadapi laga-laga besar. Hasil ini mengingatkan kembali pada rentetan performa kurang meyakinkan Los Blancos, termasuk kekalahan telak dari PSG dan Atletico Madrid.

Sebelumnya, Madrid sempat meraih kemenangan telak atas Valencia di La Liga. Namun, performa mereka di Anfield menunjukkan bahwa strategi Alonso masih jauh dari kata sempurna, terutama saat tekanan tinggi.

Real Madrid pernah dihancurkan PSG 4-0 di Piala Dunia Antarklub FIFA dan takluk 5-2 dari tim sekota, Atlético Madrid, di La Liga. Kemenangan tipis atas Juventus dan di El Clasico pun tidak sepenuhnya meyakinkan.

Beberapa masalah utama disinyalir menjadi penyebab Real Madrid kesulitan menghadapi pertandingan-pertandingan penting. Xabi Alonso didesak segera menemukan solusi mengingat jadwal berat menanti.

Salah satu masalah fundamental adalah pertahanan rapuh dalam menghadapi skema bola mati. Para bek sering kalah dalam duel udara, yang menjadi celah utama bagi lawan.

Gol tunggal Liverpool, yang menjadi gol kemenangan, lahir dari skema bola mati. Bola dibiarkan melayang di udara tanpa gangguan, memungkinkan Mac Allister menyundul bebas ke gawang Courtois.

Kelemahan ini bukan hal baru. Saat melawan skuad Diego Simeone, dua gol di babak pertama yang mengoyak gawang Courtois juga berasal dari sundulan. Penalti yang didapat Atlético bahkan bermula dari kesalahan pemain Madrid mengantisipasi tendangan sudut.

Alonso sebenarnya telah berupaya mengatasi ini dengan menggandeng asisten kepercayaannya, Sebas Parrilla, yang dikenal berjasa mengubah Bayer Leverkusen menjadi salah satu tim terbaik dalam menghadapi skema bola mati. Real Madrid juga merekrut spesialis bola mati dari Leganés, Jesús Rueda.

Meskipun menyadari masalah ini, solusi konkret belum terlihat. Jika terus dibiarkan, lawan akan terus mengekspos pertahanan Real Madrid melalui skema bola mati.

Masalah kedua adalah sayap kanan yang belum menyatu. Alonso menerapkan strategi empat gelandang yang sukses menaklukkan Barcelona, dengan Eduardo Camavinga di posisi sayap kanan saat menghadapi Liverpool. Namun, strategi ini gagal membendung agresivitas Liverpool.

Camavinga terlihat kesulitan menguasai bola dan sering melakukan salah umpan, menghambat serangan Real Madrid. Ia kemudian digeser ke lini tengah, memberi ruang bagi Arda Güler, namun hasilnya tetap belum signifikan.

Masuknya Rodrygo sebagai pengganti juga tidak banyak membantu setelah Liverpool mengambil alih kendali permainan. Sebelumnya, posisi ini sempat dipercayakan pada Mastantuono yang tampil tidak konsisten dan belum memenuhi harapan Alonso. Penting bagi Alonso menemukan pemain yang tepat agar serangan Real Madrid lebih stabil dan berimbang.

Terakhir, ada indikasi terlalu bergantung pada Mbappé sebagai mesin gol. Meski Alonso tidak mengakui hal ini, statistik berbicara sebaliknya. Mbappé sudah mencetak 18 gol musim ini, jauh di atas Vinicius yang baru lima gol. Secara total, hanya tujuh pemain Real Madrid yang berhasil mencatatkan nama di papan skor musim ini.

Ketergantungan pada Mbappé membuat pola serangan Madrid mudah ditebak. Lawan cukup meredam pergerakan Mbappé, Vinicius, atau Bellingham, seperti yang sukses dilakukan Arne Slot.

Jika Real Madrid gagal meningkatkan kolektivitas dalam produksi gol, sisa musim ini akan sangat berat bagi mereka. Itulah tiga masalah utama yang sering kali membuat Real Madrid kesulitan menghadapi laga besar. Xabi Alonso harus bekerja keras menemukan racikan yang lebih pas, terlebih di tengah badai cedera yang menghantam skuad Los Blancos.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.