Jakarta – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, seruan untuk menjaga persatuan dan toleransi semakin menguat, terutama di tengah derasnya arus informasi digital. Pemerintah bersama tokoh masyarakat mengimbau agar masyarakat Indonesia menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk mempererat tali persaudaraan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perpecahan.

Nasaruddin Umar, dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (25/2), menekankan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai sarana untuk memperkuat solidaritas sosial. “Jadikan bulan ini sebagai momentum memperkuat solidaritas sosial. Pastikan keberkahan Ramadan dapat dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan seharusnya dilihat sebagai rahmat yang memperkaya, bukan sebagai sumber perpecahan. “Jangan biarkan perbedaan hitungan melunturkan kedekatan hati. Dalam perbedaan itulah kualitas toleransi kita diuji dan ditingkatkan,” tambahnya.

Yudian Wahyudi, menyoroti tantangan yang muncul di era digital, terutama terkait penyebaran informasi yang tidak benar. Ia mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap hoaks, ujaran kebencian, dan paham radikal yang seringkali menyebar melalui media sosial. “Kepada masyarakat di bulan suci Ramadan harus menjaga toleransi dan persatuan di tengah tantangan arus digital saat ini,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa meskipun teknologi memberikan kemudahan, ruang digital juga berpotensi menjadi tempat berkembangnya hal-hal negatif yang dapat merusak persatuan. “Mari menjunjung toleransi dan saling menghormati satu sama lain, karena semua agama mengajarkan kita untuk saling menghormati dan menjaga persatuan,” tegasnya.

Marwan Dasopang, turut menyampaikan imbauan serupa, mengajak umat Muslim untuk menjalankan ibadah Ramadan dengan khusyuk serta menjunjung tinggi sikap saling menghormati. “Kami mengimbau umat Muslim Indonesia, mari kita beribadah dengan khusyuk, memperbanyak amal ibadah, dan pentingnya menjaga sikap toleransi selama bulan suci Ramadan,” katanya. Ia juga mengingatkan pentingnya saling menghormati antarumat beragama. “Bagi masyarakat yang tidak berpuasa untuk menghormati umat Islam yang menjalankan ibadah, begitu pula sebaliknya, demi menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat,” imbuhnya.

Imbauan ini menegaskan bahwa menjaga toleransi dan mewaspadai radikalisme merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Diharapkan, dengan semangat kebersamaan, Ramadan dapat menjadi bulan yang memperkuat iman, persatuan, dan kedamaian di Indonesia.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.