Jakarta – Banjir bandang yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat memicu sorotan tajam terhadap kinerja Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmat Saleh, mendesak dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap Kemenhut, khususnya terkait penanganan pascabencana yang dinilai belum optimal.
Kritik keras dilontarkan terkait efektivitas Satgas Penyelamatan Kawasan Hutan (PKH). Rahmat mengungkapkan kekecewaannya setelah rapat antara Komisi IV dan Kemenhut yang membahas respons terhadap bencana.
Dalam dialog daring pada Jumat (5/12/2025), Rahmat menyatakan bahwa penjelasan Kemenhut dalam rapat tersebut tidak memuaskan. “Banjir belum reda sepenuhnya, tapi kayu gelondongan besar masih hanyut di depan mata warga yang sedang susah,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa aktivitas pembalakan liar masih marak terjadi, bahkan saat status darurat bencana masih berlaku. Menurutnya, hal ini mengindikasikan lemahnya pengawasan dari pemerintah.
“Kayu gelondongan segar masih diangkut truk. Ini bukti Menteri Kehutanan tidak berdaya di tengah bencana, terutama dalam kewenangannya pascabencana,” tegasnya.
Rahmat juga menyinggung peran perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan hutan di luar Hak Guna Usaha (HGU). Ia merujuk pada temuan Satgas PKH, termasuk penyitaan lahan bermasalah seluas 47 ribu hektare di Padang Lawas dan 3.040 hektare di Agam.
Menurutnya, perusahaan-perusahaan tersebut selama ini menikmati keuntungan dari sumber daya hutan, sementara masyarakat menanggung akibatnya saat bencana terjadi. “Selama ini mereka menikmati, tapi saat banjir, rakyat menderita dan pemerintah menanggung beban. Pihak yang mengambil keuntungan dari hutan tidak berkontribusi pada pemulihan,” ungkapnya.
Rahmat menyimpulkan bahwa Menteri Kehutanan dinilai telah kehilangan kendali dalam penegakan kebijakan dan pengawasan di sektor kehutanan. Ia menekankan bahwa banjir bukan hanya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, tetapi juga akibat kerusakan alam, terutama hutan, yang tidak ditangani dengan baik. “Kerusakan ini nyata. Jika tidak ditindak, bencana akan terus berulang,” tegasnya.











