Jakarta – PT Bukit Asam (PTBA) tengah berupaya mempercepat revitalisasi tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat, sebagai respons terhadap kebutuhan lapangan kerja di wilayah tersebut. Target operasional yang semula ditetapkan pada tahun 2027, kini didorong untuk terealisasi pada tahun 2026.

“Sekarang (2026) saja,” kata Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, di Jakarta, Selasa (25/2-2026), mengindikasikan optimisme perusahaan terhadap proyek ini.

Direktur Operasional PTBA, Ilham Yacob, menjelaskan bahwa saat ini perusahaan sedang dalam proses pengurusan perizinan, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), dan feasibility study (FS). “Benar ada rencana kita mau aktifkan kembali tambang di Ombilin, saat ini sedang proses perizinan dan Amdal serta feasibility study (FS). Dokumen ini sangat penting, tanpa itu aktivitas tidak bisa dilakukan. Jika sudah dibuka, ekosistemnya akan terbentuk dan punya dampak ekonomi yang bagus,” ujarnya.

Menurut Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno, penambangan baru dapat dimulai setelah seluruh dokumen diselesaikan dan memperoleh persetujuan dari pemerintah. Dokumen-dokumen tersebut mencakup berbagai aspek, termasuk teknis, analisis biaya operasional, kesiapan tenaga kerja, legalitas, regulasi, dan lingkungan.

Diperkirakan, jika tambang kembali beroperasi, baik tambang permukaan maupun tambang dalam, akan menyerap sekitar seribu tenaga kerja. Eko Prayitno mengungkapkan potensi tambang terbuka di Ombilin mencapai 2 juta ton, sementara tambang dalam menyimpan potensi 100 juta ton.

Tambang batu bara Ombilin, yang merupakan salah satu tambang tertua di Indonesia, mengalami penurunan aktivitas secara signifikan sejak 25 tahun lalu. Hal ini menyebabkan banyak pekerja meninggalkan Sawahlunto dan memicu kekhawatiran akan terjadinya “kota mati”.

Rencana pembukaan kembali tambang ini telah beberapa kali diwacanakan, bahkan investor dari China sempat menunjukkan minat, namun belum terealisasi. Penemuan deposit batu bara di Ombilin tercatat oleh peneliti muda Belanda, Willem Hendrik de Greve, pada tahun 1867-1868. RDM Verbeek, yang dikenal sebagai bapak geologi Hindia Belanda, mencatat bahwa deposit batu bara di Ombilin mencapai 200 juta ton, terdiri dari 80 juta ton di Parambahan, 90 juta ton di Sungai Durian, dan 4 juta ton di Lurah Gadang.

Pemerintah Hindia Belanda secara resmi membuka tambang ini pada 28 Desember 1891, melalui surat keputusan pemerintah tanggal 4 Januari 1892, Nomor 2, Tahun 1892. Pembukaan tambang ini juga diikuti dengan pembangunan jaringan kereta api, Pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur), dan pabrik semen di Indarung, yang memicu industrialisasi di Sumatra’s Westkust. Warisan dari masa lalu ini masih dapat dirasakan hingga saat ini, dengan Semen Padang yang terus berkembang.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.