Aceh – Presiden Prabowo Subianto menyatakan dirinya terbuka terhadap kritik dari masyarakat terkait penanganan bencana di Sumatra. Meskipun demikian, Prabowo mengakui bahwa tidak semua kritik yang diterimanya sepenuhnya benar.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam rapat penanganan bencana yang digelar di Aceh bersama sejumlah pejabat pada Kamis, 1 Januari 2025. Dalam rapat itu, ia membahas salah satu kritik mengenai kinerja pemerintah dalam penanganan banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Kritik yang disoroti adalah anggapan bahwa kunjungan para pejabat ke lokasi bencana tidak bermanfaat. “Saya kira inilah memang kewajiban kita, saya berterima kasih kepada semua unsur yang saya lihat turun ke lapangan,” kata Prabowo. Menurutnya, pejabat pemerintah tidak hanya sekadar datang untuk melihat-lihat, tetapi juga mengidentifikasi masalah langsung di lapangan.

Namun, Prabowo menilai inisiatif tersebut seringkali dianggap buruk oleh berbagai pengamat. “Kadang-kadang saya monitor ada suatu kecenderungan yang menurut saya kurang sehat dari beberapa pribadi-pribadi, komentator dan sebagainya, yang selalu melihat kegiatan bangsa Indonesia, kegiatan pemerintah dari sudut yang negatif,” tuturnya.

Ia bahkan pernah mendengar kritik yang mempertanyakan tujuan menteri datang ke lokasi bencana. “Saya pernah dengar ada kritik begini, ‘untuk apa menteri datang ke tempat bencana? Hanya datang melihat saudara-saudara serba susah’,” ucapnya.

Prabowo berpandangan bahwa pemerintah berada dalam posisi serba salah. Jika pejabat tidak turun ke lokasi bencana, mereka akan dianggap tidak peduli. Oleh karena itu, ia menyatakan bahwa pejabat di Indonesia harus siap menghadapi hujatan.

“Salah satu kewajiban seorang pemimpin adalah siap untuk dihujat, siap untuk difitnah,” tegas mantan menteri pertahanan ini. Prabowo juga berpesan agar para menteri, kepala badan, hingga kepala daerah tidak patah semangat karena kritik.

“Semua itu kita terima sebagai koreksi juga, enggak apa-apa, walaupun itu fitnah. Walau kita tahu di hati kita bahwa itu tidak benar, tapi itu jadi waspada bagi kita ya,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya melaporkan total korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai 1.154 orang hingga Rabu sore, 31 Desember 2025.

Korban meninggal paling banyak tercatat di Aceh, yaitu sebanyak 527 orang. Sementara itu, 365 korban meninggal di Sumatra Utara dan 262 korban meninggal di Sumatra Barat.

BNPB juga melaporkan adanya penambahan dua korban hilang di Sumatra Barat, sehingga total warga yang dinyatakan hilang hingga saat ini mencapai 165 orang. “Korban hilang ada 31 orang di Aceh, 60 di Sumatera Utara, dan 74 di Sumatera Barat,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers penanganan bencana Sumatra, Rabu, 31 Desember 2025.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.