Jakarta – Gelombang demonstrasi melanda berbagai kota di Indonesia, dipicu kematian seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan. Massa menuntut keadilan atas insiden yang terjadi saat kericuhan demo pada Kamis (29/8) malam.

Affan, 21 tahun, tewas setelah ditabrak dan dilindas kendaraan taktis Brimob. Kematiannya memicu amarah dan kesedihan mendalam di kalangan pengemudi ojek online.

Aksi unjuk rasa menuntut keadilan bergema dari Jakarta hingga Makassar, Medan hingga Surabaya. Spanduk tuntutan keadilan menghiasi jalanan.

Di tengah situasi yang memanas, pemuka agama menyerukan persatuan dan meminta semua pihak menahan diri.

Rohaniwan lintas iman merumuskan “Petisi Keprihatinan Kebangsaan,” mengingatkan pentingnya ukhuwah dan mengkritik pemimpin yang dinilai lupa menyejahterakan rakyat.

“Keprihatinan rakyat itu seharusnya juga menjadi bagian dari empati agama, karena iman bukanlah ruang sunyi yang tercerabut dari realitas,” bunyi petisi tersebut.

Para rohaniwan mengecam buzzer, politisi, dan rohaniwan yang kehilangan kompas moral. Mereka mengajak semua pihak kembali ke nurani.

Padang – Ketua Umum MUI Sumatera Barat, Buya Gusrizal, turut angkat bicara. Ia mengakui demonstrasi adalah hak warga negara, tetapi mengingatkan bahaya kerusakan dan keresahan.

Buya Gusrizal menyampaikan duka atas kematian Affan Kurniawan. Ia meminta polisi mengadili anggotanya yang melanggar batas kemanusiaan.

“Jika gejolak ini terus berlanjut, kehidupan ekonomi akan lumpuh. Dan yang menanggung akibatnya bukan hanya pejabat, melainkan seluruh rakyat,” ujarnya.

Di tengah narasi yang beredar, seruan pemuka agama menawarkan jalan menahan diri, sabar, dan mencari keadilan lewat nurani.

Para rohaniwan mengajak semua pihak berjalan dalam kebenaran. “Kami sedih, tapi cinta kami kepada Indonesia tak akan pernah padam,” tulis mereka.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.