Padang – Perusahaan Daerah Air Minum (Perumda) Kota Padang tengah berpacu dengan waktu untuk menormalkan kembali pasokan air bersih kepada pelanggan, usai banjir menerjang wilayah tersebut. Per Kamis (4/12), upaya pemulihan yang telah berjalan selama enam hari ini menunjukkan progres signifikan dengan capaian 77 persen.
Direktur Utama Perumda AM Kota Padang, Hendra Pebrizal, menjelaskan bahwa dampak banjir menyebabkan terhentinya layanan air bersih hingga 90 persen. “Selebihnya mengalami rusak sedang hingga berat sehingga tidak bisa dioperasionalkan sesuai kapasitas yang ada,” ungkapnya. Hanya tiga Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang mampu bertahan dan terus beroperasi, mengandalkan sumber air dari sumur bor serta IPA Sikayan Balumuik.
Proses pemulihan dilakukan secara intensif, siang dan malam, dengan fokus utama pada perbaikan infrastruktur yang terdampak. Wilayah selatan dilaporkan telah kembali normal berkat berfungsinya kembali intake Bungus, IPA Pegambiran, IPA Sikayan, Ulu Gadut, dan Jawa Gadut. IPA Paraku, dengan kapasitas 200 liter per detik, juga telah beroperasi sejak hari kedua pasca banjir, memastikan kebutuhan air di wilayah selatan terpenuhi.
Gangguan terparah terjadi di pusat kota, di mana intake Kampung Koto Nanggalo yang menyuplai air ke IPA Gunung Pangilun dengan kapasitas 500 liter per detik sempat mengalami kelumpuhan total. “Intake beroperasi pada Sabtu satu pompa dengan 150 liter per detik. Dua hari kemudian beroperasi dua pompa,” jelasnya.
Kendala utama dalam proses pemulihan adalah terendamnya tiga pompa akibat banjir, yang mengharuskan pembongkaran elektromotor. Selain itu, banjir susulan sempat memaksa petugas untuk kembali mengamankan perangkat pompa. Setelah perbaikan pompa selesai, mulut kanal intake tertutup material, kembali menghambat proses produksi.
Saat ini, kapasitas yang berfungsi baru mencapai 300 liter per detik, hal ini disebabkan oleh kualitas air yang sangat keruh. Alat berat telah disiagakan untuk melakukan pengerukan di mulut kanal intake Kampung Koto Nanggalo.
Meskipun demikian, layanan di pusat kota mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, terutama untuk objek vital seperti rumah sakit. Pemulihan dilakukan secara bertahap dengan prioritas memastikan suplai air tetap aman dan berkualitas.
Upaya cepat tanggap juga ditunjukkan dalam pemulihan pipa intake Guo sepanjang 150 meter yang hilang terseret banjir. Pipa tersebut berhasil dipulihkan dalam waktu satu hari setelah alat berat dikerahkan, lebih cepat dari target awal yaitu tiga hari. Daerah Kuranji, Belimbing, dan Taruko juga sudah mulai mendapatkan aliran air sejak malam sebelumnya.
Di wilayah utara, tiga intake kecil sudah kembali beroperasi. Intake Garing dan Latung gravitasi menghasilkan 90 liter per detik dari kapasitas 290 liter per detik. Namun, produksi belum maksimal karena pompa berkapasitas 125 yang mampu menghasilkan 200 liter per detik hilang terseret banjir bersama rumah pompanya. “Sekarang air di Sungai Lubuk Minturun Masih deras dan keruh tinggi, sehingga belum bisa disedot. Airnya juga deras bercampur lumpur,” pungkasnya.











