Jakarta – Nilai tukar rupiah yang lebih stabil menjadi salah satu faktor utama Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan (BI Rate). Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2025.

Suku Bunga Acuan Turun

BI memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5 persen. Suku bunga *deposit facility* juga turun 25 bps menjadi 4,25 persen, dan suku bunga *lending facility* turun 25 bps menjadi 5,75 persen.

Aviliani, Kepala Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), menyatakan bahwa stabilitas rupiah menarik investor asing.

Faktor Ketidakpastian Global

Aviliani menambahkan, ketidakpastian kebijakan di Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump membuat dolar AS tidak menarik. “Jadi, kita melihat rupiah stabil, sehingga wajar BI menurunkan BI-Rate,” ujarnya.

Harapan Perbanas pada LPS

Perbanas berharap Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ikut menurunkan suku bunga seiring dengan pemangkasan BI-Rate. “Karena kita (perbankan) mengacunya pada LPS,” kata Aviliani.

Pergeseran Investasi Perbankan

Sektor perbankan mulai mengurangi penempatan dana di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) karena penurunan instrumen tersebut. BI juga mengurangi volume lelang SRBI, dengan posisi akhir Rp 720,01 triliun per 15 Agustus 2025, dari sebelumnya Rp 916,97 triliun pada awal Januari 2025.

Obligasi Pemerintah Masih Menarik

Obligasi pemerintah masih menawarkan imbalan sekitar 6,3-6,4 persen. “Jadi ini masih menjadi pilihan buat masyarakat antara menempatkan dana di bank dengan membeli ritel obligasi,” jelas Aviliani.

Ruang Penurunan Suku Bunga

Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan masih ada ruang untuk menurunkan suku bunga acuan. Pemangkasan ini merupakan yang keempat kalinya sepanjang tahun 2025.

Inflasi Terkendali

Perry menjelaskan, keputusan penurunan didasarkan pada proyeksi inflasi dua tahun ke depan yang diperkirakan berada di kisaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2025 dan 2026.

Pertumbuhan Ekonomi Jadi Pertimbangan

Pertimbangan lain adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan berada di atas titik tengah 4,6-5,4 persen atau sekitar 5,1 persen pada tahun 2025. Namun, Perry menilai proyeksi ini masih di bawah kapasitas potensial perekonomian Indonesia.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.