Jakarta – Analisis Drone Emprit menunjukkan sentimen publik terhadap pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto bervariasi di berbagai platform media sosial. Mayoritas platform menunjukkan sentimen positif, kecuali X (dulu Twitter) yang justru menjadi pusat kritik.
Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengungkapkan bahwa pemantauan yang dilakukan pada 20 Oktober hingga 7 November 2025 ini memperlihatkan perbedaan signifikan dalam pandangan masyarakat.
Di X, sentimen negatif mencapai 63%, dengan narasi yang menyoroti Soeharto sebagai simbol KKN, pelanggar HAM berat, dan dalang genosida 1965-1966. Hanya 27% pengguna X yang memberikan sentimen positif, dengan narasi Soeharto sebagai pembuat fondasi pembangunan dan penjaga stabilitas pangan.
“X tetap menjadi kanal bagi kalangan yang melek sejarah dan politik. Di sini, perbincangan tentang Soeharto bukan sekadar nostalgia, tetapi juga evaluasi terhadap warisan kekuasaan,” ujar Ismail dalam keterangannya, Senin (10/11/2025).
Facebook menjadi platform dengan sentimen positif tertinggi, mencapai 80%. Pengguna Facebook menonjolkan Soeharto sebagai tokoh sentral sejarah modern Indonesia yang berhasil menjaga stabilitas ekonomi dan swasembada pangan. Sentimen negatif di Facebook hanya 9%, dengan alasan Soeharto sebagai pelanggar HAM dan pelaku KKN.
“Facebook menjadi wadah nostalgia dan romantisme masa lalu. Bagi banyak pengguna, Soeharto dipandang sebagai lambang keteraturan di tengah ketidakpastian masa kini,” kata Ismail.
Instagram cenderung netral, dengan 56% sentimen positif dan 29% negatif. Narasi positif di Instagram mengakui kontribusi Soeharto dalam pembangunan infrastruktur dan ekonomi. Namun, 29% unggahan tetap kritis mempertanyakan rekam jejak HAM dan moralitas kepemimpinan Soeharto.
YouTube menjadi ruang diskusi yang rasional, dengan 62% konten positif menampilkan analisis tentang stabilitas ekonomi dan penurunan inflasi pada masa Soeharto. Sementara itu, 35% konten negatif berisi kritik terhadap praktik korupsi dan pelanggaran HAM.
TikTok memiliki 77% sentimen positif, dengan narasi Soeharto dianggap sebagai pemimpin kuat, berjasa dan tegas. Video di TikTok banyak mengaitkan masa Orde Baru Soeharto dengan stabilitas harga kebutuhan pokok dan ketenangan hidup rakyat kecil. Sentimen negatif di TikTok hanya 12%, mengingatkan pelanggaran HAM dan Soeharto sebagai simbol KKN.
“Gaya komunikasi emosional dan visual di TikTok menjadikan sejarah tampil sebagai ‘cerita yang menyentuh’, bukan perdebatan ideologis,” pungkas Ismail.
Pilihan Editor: Peluang Membatalkan Gelar Pahlawan Soeharto












