Jakarta – Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (ICDX) menyatakan hingga kini terdapat 58 produsen minyak sawit mentah (CPO) lokal yang telah bergabung di bursa. Puluhan produsen ini menguasai sebagian besar pangsa pasar CPO nasional, dengan perkiraan 50 hingga 70 persen. Direktur ICDX, Nursalam, berharap optimalisasi peran 58 perusahaan ini dapat menarik produsen lain untuk bergabung, sehingga Indonesia mampu membentuk referensi harga CPO sendiri. Pernyataan tersebut disampaikan Nursalam di kantor Kementerian Perdagangan pada Jumat, 2 Januari 2026.

Meski demikian, Nursalam mengakui bahwa jumlah produsen yang bergabung di bursa masih tergolong sedikit. Pihak ICDX terus mencari cara untuk menggaet lebih banyak produsen, antara lain melalui diskusi dengan pengusaha mengenai insentif atau kebutuhan yang diperlukan untuk bergabung di bursa. Ia berharap dengan membludaknya jumlah pengusaha, Indonesia dapat membentuk referensi harga CPO yang kuat.

Nursalam pernah bertanya langsung kepada produsen CPO mengenai alasan mereka belum bergabung di bursa berjangka komoditi dalam negeri. Menurutnya, tidak ada alasan fundamental yang menyebabkan penundaan tersebut. Para pengusaha disebut akan bergabung asalkan sudah banyak produsen lain yang masuk di bursa.

CPO merupakan salah satu komoditas andalan ICDX, mengingat Indonesia adalah negara produsen terbesar di dunia. Nursalam berharap ekspor CPO pada tahun ini dapat meningkat dari capaian tahun 2025. “Memang saat ini masih belum sesuai yang kita harapkan, tapi kita tidak menyerah,” tutur dia. Ia pun menargetkan 50 persen volume ekspor CPO dilakukan melalui bursa pada tahun ini.

Sebelumnya, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan membukukan volume transaksi perdagangan berjangka komoditi (PBK) periode Januari hingga November 2025 mencapai 14,56 juta lot. Jumlah tersebut tumbuh sebesar 12 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024.

Kepala Bappebti, Tirta Karma Senjaya, menyampaikan nilai notional untuk perdagangan kontrak berjangka minyak sawit mentah pada 2025 tercatat senilai Rp 2,69 triliun. Angka ini didukung oleh volume transaksi sebesar 30.341 lot.

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, mengatakan CPO dan komoditas turunannya merupakan komoditas dengan ekspor tertinggi pada 2025 dalam kategori nonmigas. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, Dyah menyebut total nilai ekspor lemak dan minyak hewan nabati, termasuk minyak sawit mentah, mencapai US$ 28,37 miliar.

Dyah meyakini bahwa kontribusi signifikan tersebut dapat memantik seluruh pihak di perdagangan berjangka komoditi untuk terus mendorong transaksi melalui bursa berjangka. Hal ini sekaligus mengoptimalkan tata niaga serta ekosistem yang telah ada.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.