Semarang – Keraguan suporter PSIS Semarang terhadap keseriusan manajemen klub akhirnya terjawab. Faris, mantan CEO Persela Lamongan, memutuskan mundur untuk meredam potensi konflik kepentingan.
Keputusan ini diambil menyusul kekhawatiran yang berkembang di kalangan pendukung terkait posisi PSIS dan Persela yang berada dalam grup yang sama di Pegadaian Championship Grup Timur. Banyak pihak khawatir keputusan strategis klub bisa dipengaruhi kepentingan ganda pemegang saham.
Faris memilih mundur sebagai bentuk komitmen menjaga integritas klub. Langkah ini dianggap tepat agar PSIS terhindar dari isu keberpihakan yang dapat mencoreng atmosfer kompetisi.
Ketua Panser Biru, Wareng, melalui akun Instagram pribadinya, @kepareng_wareng, turut menanggapi situasi ini. Ia menilai kepemilikan saham di lebih dari satu klub bukan hal baru di sepak bola Indonesia.
Wareng mencontohkan beberapa situasi di Liga 1 di mana pemilik saham sebuah klub juga memiliki keterlibatan di klub lain, namun tidak menimbulkan persoalan besar. Menurutnya, selama ada pemegang saham pengendali yang jelas, struktur manajemen tetap bisa dikontrol.
Wareng tetap mengapresiasi langkah Faris yang memilih mundur demi menjaga kepercayaan suporter.
Keputusan Faris ini diyakini dapat menenangkan suasana di kalangan suporter PSIS. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa manajemen klub menempatkan transparansi dan integritas sebagai prioritas utama. Dengan berakhirnya polemik ini, para pendukung berharap PSIS bisa kembali fokus mengejar target prestasi di kompetisi musim ini.











