Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah menggenjot program hilirisasi ayam terintegrasi di berbagai daerah sebagai upaya mencapai swasembada protein. Langkah ini dipandang krusial untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan nilai tambah sektor perunggasan, serta menstabilkan pasokan daging ayam dan telur bagi masyarakat.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyatakan bahwa pemerintah telah memulai implementasi program tersebut di enam wilayah sebagai tahap awal pembangunan ekosistem perunggasan nasional yang komprehensif. “Pemerintah memperkuat fondasi swasembada protein nasional melalui pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi dari hulu hingga hilir di enam daerah,” ujarnya.
Enam lokasi strategis telah ditetapkan sebagai lokasi pencanangan pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi tahap pertama, dengan Malang, Jawa Timur, menjadi pusat kegiatan. Lokasi lainnya meliputi Bone (Sulawesi Selatan), Gorontalo Utara (Gorontalo), Paser (Kalimantan Timur), Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), dan Lampung Selatan (Lampung). Tahap awal ini merupakan bagian dari rencana pengembangan nasional yang mencakup 30 titik.
Menurut Agung, program yang diinisiasi oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ini merupakan langkah antisipatif untuk menjamin ketersediaan daging ayam dan telur yang aman, berkelanjutan, merata, serta berpihak pada kepentingan peternak rakyat. Proyeksi peningkatan kebutuhan protein hewani nasional seiring dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperkirakan akan membutuhkan sekitar 1,1 juta ton daging ayam dan 774 ribu ton telur per tahun.
Lebih lanjut, Agung menjelaskan bahwa hilirisasi ayam bukan hanya sekadar peningkatan produksi, melainkan juga pembangunan ekosistem terintegrasi yang mencakup penguatan pembibitan dari grand parent stock hingga final stock, pengembangan pakan berbasis bahan baku lokal, peningkatan kesehatan hewan, pembangunan rumah potong unggas dan rantai dingin, hingga pengolahan, logistik, dan pemasaran. “Hilirisasi ayam terintegrasi ini untuk memastikan swasembada protein berjalan berkelanjutan, merata, dan berpihak pada peternak rakyat,” tegasnya.
Pemerintah telah menyiapkan dukungan investasi sekitar Rp20 triliun melalui Danantara untuk pembiayaan program ini. Selain itu, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp50 triliun juga disiapkan bagi peternak dan koperasi, termasuk melalui skema Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.










