Oleh Hendri Nova
Wartawan Topsatu.com
“Blammm…”
Seketika pemukiman di kawasan Siberut Mentawai menjadi gelap gulita, karena listrik yang tiba-tiba mati. Tamu penginapan tanpa diperintah langsung menyalakan mode senter di smartphone masing-masing, sembari menunggu listrik dihidupkan kembali oleh pemilik penginapan.
Mereka tampaknya tidak terkejut dengan situasi seperti ini, karena saat mau menginap, pemilik penginapan sudah memberikan informasi terkait kondisi kelistrikan di daerah ini. Hanya hitungan menit, listrik kembali hidup seiring beroperasinya mesin genset milik penginapan.
“Inilah kondisi di sini, listrik bisa mati kapan saja, tidak tersedia setiap waktu. Apalagi saat musim badai, jika tak punya cadangan BBM, maka bisa bertemankan lilin saja sampai pagi,” kata Dewi, salah seorang pemilik penginapan di Pulau Siberut.
Maka dari itu, saat BBM Pertamina masuk bisa habis dalam sekejap diborong warga. Warga butuh cadangan BBM yang banyak, terutama saat musim badai datang sehingga pasokan BBM terkendala.
“Entah sampai kapan situasi ini akan berlaku, karena sudah 80 tahun Indonesia merdeka, Pemerintah Indonesia belum juga bisa menghadirkan listrik permanen bagi kami di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) ini,” keluhnya.
Sementara Harun, salah seorang tokoh masyarakat Siberut, mengatakan seharusnya Pemerintah Indonesia membangunkan mereka pembangkit listrik tenaga angin dan tenaga surya. Sebagai daerah yang berada di tengah samudera, pasokan angin dan panas matahari sungguh sangat berlimpah.
“Namun sampai sekarang tidak terwujud juga, entah karena tidak ada nilai ekonominya atau alasan apa? Padahal kalau dikelola Pemerintah lalu dijual kepada masyarakat, bukankah bisa menjadi pemasukan juga pada pemerintah?” tanyanya heran.
Maka dari itu, ia berharap agar Pemerintah Indonesia bisa memberikan perhatian serius, untuk membangun fasilitas listrik berbasiskan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Mentawai tidak bisa selamanya bergantung pada listrik bertenaga fosil, karena pasokannya terkadang terkendala cuaca.
“Jika di Siberut ini dibangun kawasan kincir raksasa untuk listrik tenaga angin, saya yakin juga akan berdampak pada dunia pariwisata Siberut atau kawasan Mentawai lainnya,” ucapnya.
***
Kawasan Kepulauan Mentawai, memang termasuk daerah 3T yang susah mendapatkan akses listrik 24 jam. Bahkan warga yang memiliki genset sekalipun, baru merasa aman jika di rumahnya tersedia banyak BBM cadangan. Tanpa cadangan BBM, maka warga harus bersabar, sampai datangnya BBM baru.
Pemerintah sendiri terus berupaya meningkatkan utilisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai langkah strategis dalam menghadirkan pemerataan energi di seluruh penjuru tanah air. Terbaru, Pemerintah bersama PT PLN (Persero) dan mitra swasta meresmikan operasional 47 PLTS yang tersebar di 47 desa pada 11 provinsi di Indonesia.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menyatakan bahwa pengembangan energi surya memiliki peran krusial dalam menjangkau wilayah yang selama ini belum teraliri listrik secara optimal, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Dengan energi tenaga surya, setiap desa bisa swasembada energi, setiap kecamatan bisa swasembada energi, setiap kabupaten bisa swasembada energi, pulau-pulau terpencil akan punya energi, dan bisa swasembada desa-desa yang sangat terpencil, yang di gunung-gunung juga bisa punya akses terhadap energi, terhadap listrik,” ucap Presiden dalam peresmian 55 proyek EBT yang dipusatkan di PLTP Ijen, Bondowososo, Jawa Timur, Kamis (26/6).
Presiden pun mengapresiasi sinergi yang tejalin dalam pengembangan PLTS secara masif tersebut. Menurutnya langkah ini tidak hanya penting dalam mewujudkan swasembada energi tapi juga selaras dengan target Net Zero Emissions di tahun 2060.
“Kita akan mungkin jadi negara di dunia mungkin yang bisa menuju zero carbon emissions tepat pada waktu yang direncanakan. Tetapi yang lebih penting adalah bahwa kita bisa menghasilkan energi dengan memotong jalur-jalur logistik yang mahal inilah dampak daripada program besar kita,” tegas Presiden.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menambahkan bahwa proyek PLTS akan menjadi tulang punggung pemerintah dalam meningkatkan rasio elektrifikasi di desa-desa yang belum terjangkau listrik.
“Tadi, Bapak Presiden sudah menyampaikan bahwa dalam waktu 4-5 tahun, insyaallah desa-desa yang tidak ada listrik akan kita pasang listriknya lewat PLTS, kerja sama nanti swasta, PLN, sama negara. Inilah kabar baik dalam rangka memberikan pemerataan dan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya yang belum mendapatkan fasilitas listrik,” ujar Bahlil.
Sementara itu, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menegaskan komitmen penuh PLN dalam mendukung pemerintah untuk mewujudkan keadilan energi di wilayah 3T melalui pemanfaatan PLTS secara masif.
“Program ini bukan sekadar menghadirkan listrik, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin dalam transisi energi global. Ini adalah bentuk gotong royong nasional untuk mewujudkan masa depan yang bersih, hijau, dan inklusif,” ujar Darmawan.
Ia menjelaskan bahwa 47 PLTS yang diresmikan hari ini memiliki total kapasitas 27,8 megawatt (MW) dan berhasil memberi akses listrik bagi 5.383 rumah tangga di 47 desa, yang tersebar di 11 provinsi seluruh Indonesia.
“Dulu, anak-anak belajar ditemani lampu minyak, layanan kesehatan terbatas, dan roda ekonomi desa berhenti saat malam tiba. Kini, listrik dari energi bersih mengubah segalanya, anak bisa belajar lebih lama, Puskesmas dapat melayani masyarakat dengan optimal, dan usaha rakyat tumbuh.
Inilah keadilan energi. PLN siap menjalankan visi Presiden menuju kemandirian energi lewat akselerasi energi terbarukan,” tutup Darmawan.
Akses listrik di wilayah 3T akan menjadi wujud nyata hadirnya energi yang berkeadilan di Indonesia. Listrik dapat membuka peluang usaha, mendukung anak-anak belajar lebih baik, serta menghadirkan layanan kesehatan yang lebih modern, sehingga manfaat energi dapat dirasakan merata oleh seluruh rakyat. (*)












