Sydney – Pengelolaan kota yang berorientasi pada manusia menjadi sorotan utama dari perjalanan ke Sydney, Australia, pada akhir tahun lalu. Pengalaman ini, yang awalnya dipandang sebagai kunjungan biasa, justru memunculkan refleksi mendalam mengenai tata kelola kota yang lebih teratur dan berkeadilan.
Salah satu poin penting yang diamati adalah budaya berjalan kaki yang kuat di pusat kota. Pejalan kaki diprioritaskan dalam sistem transportasi. Ketersediaan trotoar yang luas, bersih, rata, dan aman menjadi pemandangan umum di berbagai sudut kota. Masyarakat terbiasa berjalan kaki menuju halte, pusat perbelanjaan, atau sekadar menikmati suasana kota. “Kota seolah dirancang dengan asumsi bahwa manusia akan berjalan, bukan sebaliknya, manusia yang dipaksa menyesuaikan diri dengan kendaraan,” ujarnya.
Budaya berjalan kaki ini berjalan seiring dengan ketertiban lalu lintas. Selama berada di Sydney, suara klakson hampir tidak terdengar. Pengendara mematuhi rambu lalu lintas dengan penuh kesadaran, dan pejalan kaki dihormati. Kendaraan berhenti saat lampu penyeberangan menyala, bahkan tanpa kehadiran petugas. Ia mengatakan, “Ketertiban ini mencerminkan kedewasaan sosial bahwa keselamatan dan kenyamanan bersama lebih penting daripada kepentingan pribadi.”
Upaya memanusiakan manusia juga sangat terasa di Sydney. Ruang publik dirancang untuk memenuhi kebutuhan warga. Taman kota mudah diakses, bersih, dan aman. Toilet umum tersedia dan terawat dengan baik. Halte transportasi publik dirancang dengan nyaman dan informatif. Setiap individu diperlakukan setara di ruang publik, tanpa memandang status sosial, penampilan, atau latar belakang. “Kota hadir sebagai ruang bersama, bukan sebagai arena kompetisi yang menyingkirkan kelompok tertentu,” ungkapnya.
Budaya menghargai setiap profesi juga menjadi pengalaman yang menarik. Petugas kebersihan, pekerja konstruksi, pelayan kafe, sopir, hingga pekerja sektor informal menjalankan tugasnya dengan penuh martabat dan diperlakukan dengan hormat oleh masyarakat. Dijelaskannya, “Tidak ada profesi yang dianggap rendah dan semua pekerjaan dipandang sebagai bagian penting dari roda kehidupan kota.”
Keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi juga menjadi pelajaran penting dari Sydney. Masyarakat bekerja dengan disiplin dan profesional, tetapi tidak menjadikan pekerjaan sebagai satu-satunya fokus kehidupan. Setelah jam kerja, taman, jalur pejalan kaki, dan ruang publik dipenuhi warga yang berolahraga, berjalan santai, atau berkumpul bersama keluarga. Ia menyimpulkan, “Keseimbangan ini menciptakan masyarakat yang lebih sehat secara fisik dan mental.”










