Jakarta – Olahraga padel menunjukkan pertumbuhan pesat di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Menurut Federasi Padel Internasional (FIP), Indonesia kini menduduki peringkat keenam di Asia Tenggara dan ke-29 di dunia dalam perkembangan olahraga ini. Mirip dengan tenis namun dimainkan dengan raket tanpa senar, lapangan lebih kecil, dan bola lebih ringan, padel mulai dikenal di Indonesia pada akhir 2019 dan awal 2020.

Pengenalan padel di Tanah Air banyak dibawa oleh para ekspatriat, pelajar, dan pekerja Indonesia yang sebelumnya akrab dengan olahraga ini di Eropa dan Amerika Latin. Bona Palma, pendiri komunitas Padel Aja Udah (PAUD), menyebut bahwa padel pertama kali populer di Bali sebelum kemudian merebak dan menjadi tren di Jakarta.

Komunitas PAUD sendiri bermula dari kurang dari sepuluh orang yang sebagian besar berasal dari industri kreatif, yang mengenal padel dari kolega di Malaysia. Bermula dari grup pesan instan, komunitas ini kini telah berkembang pesat dengan hampir 1.000 anggota.

Bona menjelaskan bahwa fleksibilitas, kemudahan, kesenangan, dan manfaat kesehatan menjadi daya tarik utama padel. Selain membakar kalori secara signifikan dalam waktu singkat, padel juga telah menjadi bagian dari gaya hidup karena memungkinkan para pemainnya untuk membangun jejaring dan mendapatkan teman baru.

Fenomena popularitas padel tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga melanda berbagai negara lain seperti Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Jerman, dan Inggris. Data FIP per Juni 2025 mencatat Spanyol sebagai negara dengan lapangan padel terbanyak di dunia, mencapai 17.000 lapangan, diikuti Italia dengan 10.017 lapangan.

Pada Desember 2024, dilaporkan bahwa padel bahkan berhasil menghidupkan kembali klub-klub tenis di Jerman yang sebelumnya sepi pengunjung, berkat tingginya minat masyarakat terhadap olahraga ini.

Sebuah laporan global, yang disusun oleh unit usaha, menunjukkan pembukaan 3.282 klub padel baru di seluruh dunia pada 2024, naik 22% dari tahun sebelumnya. Jumlah lapangan padel secara global juga melampaui 50.000 lapangan pada 2024, meningkat 17% secara tahunan.

Laporan tersebut memprediksi akan ada 81.000 lapangan padel yang dibangun hingga 2027. Britania Raya, misalnya, menjadi salah satu pemimpin pertumbuhan dengan 329 lapangan baru pada 2024. Disebutkan bahwa padel kini telah merambah 90 negara, dengan pertumbuhan tertinggi di antaranya tercatat di Portugal, Belanda, AS, Britania Raya, Uni Emirat Arab, Meksiko, India, dan Indonesia.

Namun, di balik tren pertumbuhan global, olahraga padel menghadapi masa sulit di Swedia. Laporan pada November 2024 menyebutkan bahwa 90 perusahaan operator padel di Swedia mengajukan kebangkrutan pada 2023.

Ribuan lapangan padel terpaksa ditutup setelah para operator terpukul oleh kombinasi persaingan ketat yang meningkat pesat, inflasi yang melonjak, dan penurunan minat dari kelas menengah.

Andreas Ehrnvall, seorang veteran olahraga di Swedia, menilai bahwa banyak hal yang berjalan keliru. “Negara ini dengan cepat berubah dari memiliki 300 lapangan padel menjadi 3.500. Itu tidak bisa dipertahankan,” ujarnya.

Padel, yang umumnya dimainkan secara ganda di lapangan tertutup berukuran 20m x 10m, awalnya dianggap ideal untuk Swedia yang memiliki tradisi tenis yang kuat. Investor berbondong-bondong memanfaatkan peluang ini, termasuk kelompok ekuitas swasta dan bintang sepak bola Zlatan Ibrahimovic.

Jumlah lapangan padel di Swedia memang meningkat pesat antara 2018 dan 2021, namun ekspansi tersebut segera menjadi berlebihan. Ehrnvall, yang membantu membawa olahraga ini ke Swedia, telah melihat tanda-tanda masalah sejak awal karena terlalu banyak pihak yang mencoba mencari keuntungan cepat.

“Dalam satu tahun, Uppsala melonjak dari total 14 menjadi 100 lapangan. Di kota seukuran Uppsala, dengan sekitar 200.000 penduduk, hanya ada ruang untuk tidak lebih dari 20 lapangan,” kata Ehrnvall, menggambarkan ledakan yang terjadi di kotanya.

Akibatnya, operator-operator kini menutup fasilitas mereka dengan sangat cepat. We Are Padel, yang merupakan bagian penting dari investasi firma ekuitas swasta di olahraga ini, telah menutup sekitar 50 klub di Swedia, menyisakan hanya 13 klub. Perusahaan tersebut mencatat kerugian sebesar 716 juta kronor Swedia atau sekitar Rp 1,13 triliun pada tahun 2022. Perusahaan lain, PDL United, juga telah bangkrut.

Eno Polo, Chief Executive Officer dari grup padel Eropa, menggambarkan ledakan olahraga ini sebagai “demam emas” dan menarik paralel dengan gelembung properti. Ia menyoroti hambatan masuk yang rendah, yang memungkinkan banyak perusahaan untuk dengan cepat membuka usaha. Meskipun awalnya menghasilkan keuntungan menarik, fenomena ini pada akhirnya menyebabkan kelebihan pasokan besar di Swedia.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.