Padang – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat merespons cepat dampak banjir bandang di Kota Padang dengan meresmikan hunian sementara (Huntara) mandiri di Kapalo Koto, Pauh. Seratus unit Huntara yang dibangun ini diharapkan menjadi solusi tempat tinggal yang layak bagi ratusan warga yang terdampak bencana.
Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, bersama Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Evi Yandri Rajo Budiman, menyerahkan secara resmi Huntara tersebut kepada Pemerintah Kota Padang pada Kamis (5/2). Huntara ini mampu menampung lebih dari 400 jiwa, diharapkan dapat meringankan beban warga yang sebelumnya tinggal di pengungsian sementara.
Evi Yandri, yang juga menjabat sebagai Ketua Pelaksana pembangunan Huntara, menjelaskan bahwa proyek ini dikerjakan secara gotong royong selama kurang lebih 45 hari, dimulai sejak 15 Desember dan selesai pada 31 Januari. “Alhamdulillah Huntara mandiri ini akhirnya selesai setelah dikerjakan bersama-sama secara gotong royong. Sekarang adalah peresmian dan penyerahannya ke Pemerintah Kota Padang,” jelasnya.
Sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan kerja keras berbagai pihak, pemerintah provinsi memberikan 16 sertifikat penghargaan kepada mereka yang telah berkontribusi dalam pembangunan Huntara. Lahan tempat Huntara dibangun merupakan sumbangan dari seorang warga suku Jambak, yang dikenal dengan nama Pak Choa.
Para penghuni Huntara tidak hanya mendapatkan tempat tinggal, tetapi juga bantuan peralatan rumah tangga, termasuk kompor, tabung gas, kasur, dan alat masak. Fasilitas lain yang disediakan adalah jaringan internet (Wi-Fi) dan listrik gratis. Evi Yandri menambahkan, “Masih ada permintaan warga yang masih akan kita penuhi yakni tempat ibadah, Insya Allah secepatnya. Semoga bisa digunakan nanti untuk ibadah bulan ramadhan.”
Evi Yandri menekankan bahwa Huntara ini bersifat sementara. “Bagaimana pun ini adalah hunian sementara, bukan huntap (hunian tetap). Namun ini kami buat dengan kepedulian dan kesedihan yang ikut kami rasakan melihat warga kehilangan rumah karena banjir bandang,” ujarnya. Ia juga mengenang momen-momen evakuasi warga saat banjir bandang terjadi. “Saya ingat amak-amak di tengah hujan, gemetaran. Kami bujuk untuk mau dievakuasi. Di saat bersamaan rumahnya runtuh di belakangnya,” tuturnya.
Vasko Ruseimy menambahkan bahwa pembangunan Huntara ini merupakan wujud kepedulian dan rasa simpati atas bencana yang dialami warga. “Selama ini, ketika ada bencana, Huntara jarang dibangun. Biasanya pemerintah hanya bangun huntap, dan itu memakan waktu setahun hingga dua tahun untuk kemudian baru tersedia. Huntara ini kami bangun dengan kepedulian dan rasa simpati atas bencana yang dialami warga,” katanya.
Walikota Padang, Fadly Amran, menyampaikan apresiasi atas inisiatif pembangunan Huntara tersebut dan berjanji akan mengupayakan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak bencana. Perwakilan Ninik mamak dan ketua kan Pauh V juga menyampaikan terima kasih atas nama warga. “Mari kita syukuri dan rawat. Walaupun sifatnya tempat tinggal sementara mari kita jaga bangunannya, kebersihan, kenyamanan dan keamanan Huntara ini,” imbaunya.
Sejumlah pihak yang turut membantu penyelesaian Huntara mandiri tersebut antara lain Brimob Polda Sumbar, Batalyon 896, Batalyon 133, PMI Sumbar, PLN Sumbar, Semen Padang, Gekrafs Sumbar, SMKN 5, Tagana Sumbar, Karang taruna Sumbar, AKLI Sumbar, MKI Sumbar, Badan geologi, Pemuda Panca Marga, Masyarakat Energi Terbarukan, Tagana Mentawai, dan Tagana Kalimantan Selatan.











