Bukittinggi – Pacu kuda terbuka yang digelar di Gelanggang Bukit Ambacang pada Minggu (28/12) menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Bukittinggi dan Pemerintah Kabupaten Agam untuk bersinergi dalam penggalangan dana bagi korban bencana alam. Acara ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga wujud kepedulian terhadap sesama.
Ketua Panitia Pelaksana, Hamdan, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dapat terlaksana berkat sokongan anggaran dari APBD Pemko Bukittinggi dan Pemkab Agam. “Pacu kuda dilaksanakan dengan dukungan APBD Pemko Bukittinggi dan Pemkab Agam,” ujarnya. Selain itu, acara ini juga menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi Kota Bukittinggi yang ke-241.
Ketua Umum Pengda Pordasi Sumatera Barat, Deri Asta, menyoroti pentingnya menjaga tradisi pacu kuda sebagai bagian dari warisan budaya. Ia berharap agar “alek pacu kuda ini bisa menjadi agenda rutin yang dilaksanakan secara berkesinambungan,” serta mengapresiasi dukungan dari Walikota Bukittinggi dan Bupati Agam dalam pengembangan olahraga ini di Sumatera Barat. “Kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut,” imbuhnya.
Dedi Asmar, perwakilan Bupati Agam, menjelaskan bahwa pengumpulan dana untuk membantu korban bencana alam adalah tujuan utama dari penyelenggaraan acara ini. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa kegiatan ini juga berfungsi sebagai wadah untuk mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan antar daerah.
Walikota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menegaskan bahwa pacu kuda merupakan agenda rutin yang diselenggarakan dua kali dalam setahun. Ia menjelaskan bahwa fokus utama kegiatan kali ini adalah “penggalangan dana untuk daerah terdampak bencana alam, sekaligus memberi dampak ekonomi dengan menggerakkan UMKM di sekitar arena pacu kuda.”
Apresiasi juga datang dari Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sumbar, Mahyanur, yang mewakili Gubernur. Ia menyampaikan penghargaan kepada Pemko Bukittinggi dan Pemkab Agam atas inisiatif penyelenggaraan acara ini. Menurutnya, meskipun Sumatera Barat tengah dilanda bencana alam, masyarakat tidak boleh berlarut dalam kesedihan, dan program serta kegiatan harus tetap berjalan untuk membangkitkan kembali perekonomian daerah.










